Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2024

Unfinished Workspace

 

Being in a new place within latest 11 months — 40 km away from my previous residence — finally I gave up on the internet service here, a village full of greenery and sea breeze. So, I have upgraded my network, along with its desktop and the table. Here’s my unfinished workspace.

Note to myself: Older gen technology means less problematic issues, more stable, 39% less money to spend for a 5% unhurried processor’s single core performance.

When a next gen arrives, you know what’s remained? Tentu saja generasi teknologi sebelumnya yang lebih terjangkau namun matang secara pengembangan. Demi produktivitas, 6 Core 12 Thread adalah sweet spot. Mengusung performa single core yang 5% lebih santai namun beranggaran 39% lebih hemat. Cocok dan proper untuk Excel.

2 Februari 2023

Travel Snapshot | Dan Saya Membuat Entry Lagi

Baiklah kawan-kawan, saya tidak pernah posting di sini beberapa tahun terakhir! Apa kabar? Silakan menikmati sedikit gambaran tentang Jogja (tempat saya tinggal sekarang) dalam 27 panel. Berisi 8 gambar hutan, 8 pantai, 3 jalanan, 3 sawah, 2 gunung, dan 3 warung. Bagian dari seri travel snapshot saya sejak 2009.

Gambar-gambar itu diambil saat bumi sedang dalam masa pemulihan dari segala jenis aktivitas menyakitkan oleh manusia pada kurun waktu seratus tahun terakhir. Kondisi yang teramat langka namun epic dengan langit biru yang berbeda, awan tinggi, juga sore hari yang cerah namun terkadang kuning. Beruntung saya berhasil mendokumentasikannya selama satu tahun penuh dari segala penjuru Yogyakarta, meski tidak setiap hari.

Ditangkap dengan sensor kamera smartphone yang tidak lebih besar dari kuku jari kelingking, setiap gambar selanjutnya melewati proses peningkatan kualitas (enhanced) dengan Adobe Lightroom Premium. Sebuah teknologi mutakhir yang baru muncul pada Februari 2019. Oh ya, kecuali gambar tetes-tetes air hujan berlatar mendung gelap di sisi kanan bawah itu, semua gambar diambil mulai 23 Desember 2020 hingga 18 Desember 2021. Adapun untuk tetes-tetes air diambil pada 9 Desember 2019 selepas ashar, dalam sebuah perjalanan senin sore ke arah barat kota.

Been trying to get in touch with my soul, then I found #design #snapshot and #traveling did a great job.

28 April 2019

Penjenamaan atau Branding

Klik di ini untuk mengunjungi studio kami

Analoginya adalah, Anda seorang pemilik pabrik peralatan dapur baru. Teko, panci, penggorengan maupun mug logam adalah beberapa contoh hasil olahan pabrik Anda. Suatu pagi, sesaat setelah seruputan kopi ketiga, Anda mulai berpikir bahwa produk-produk tadi tentu saja membutuhkan kemasan maupun buku panduan cara pakainya. Pun, untuk membuatnya dibutuhkan sejumlah tahapan yang lebih dari kata singkat. Sejenak Anda sadar, bahwa ratusan juta rupiah bukanlah jumlah yang kecil untuk sekadar membangun devisi perancang kemasan beserta hardware, software, maupun brainware-nya. Semua orisinil agar berkah. Hingga pada sore harinya, satu pencerahan seputar istilah 'crowdsourcing' terlontar dari karyawan Anda yang ahli di bagian listrik. Sebuah celah untuk mengakali pembangunan devisi baru itu. Sebuah celah untuk menghemat waktu, biaya, bahkan listrik. Nah, saya adalah satu dari orang-orang pengisi celah itu. Apa? Yang tanya?

Ah, sudah sore lagi. Jangan lupa cuci beras!


19 April 2018

Antimainstream


Konon, Jogja punya trayek bus terpanjang di dunia, Jogja - Paris. Model pada gambar di atas hanyalah pemanis. Diambil dari kawasan pantai Depok, Parangtritis (Paris) yang mendadak tenar sejak gank Cinta AADC mampir dan selfie-selfie di sana dua tahun lalu. Dari pasar ikan (TPI) Depok lurus saja ke arah timur menuju gumuk pasir Parangkusumo.

Sebenarnya, dengan bergeser beberapa menit saja kita bisa menemukan spot yang menawarkan sudut pandang antimainstream dari sejumlah destinasi wisata yang sudah umum di seputaran Jogja. Parangtritis misalnya, bergeserlah 2,7 kilometer ke arah timur untuk mendapat view garis pantai nan panjang dari atas bukit Paralayang, Watugupit. Atau bangunan Pulo Cemeti yang epic dengan hanya bergeser beberapa puluh meter dari situs Sumur Gumuling. Citra Scholastika pernah ambil gambar untuk video klipnya di sana, Pasti Bisa.

Lalu, bagaimana dengan kawasan pantai? Baron, pantai yang pas untuk piknik keluarga karena ombak yang tidak seberapa besar, pun menawarkan view hidden spot yang hanya dapat dinikmati dari atas Mercusuar Tanjung Baron. Bergeserlah 400 meter ke arah selatan dengan berbekal 2000 perak untuk naik ke atas bukit dan 10.000 untuk naik ke puncak menara. Oh ya, gambar terakhir adalah situs Ratu Boko. Berjarak 3,3 kilometer ke arah selatan.

Catatan #1: Semua gambar diambil dengan kamera smartphone berlensa 13 MegaPixel bawaan pabrik. Diolah dengan Adobe Lightroom versi mobile dengan sesekali melibatkan Snapseed.

Catatan #2: Jogja, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.


13 Maret 2018

Jogja dalam Romantisme


Cinderamata hari kemarin, sate jamur dari warung spesialis jamur di jalan Magelang. Sebenarnya, mampir ke sana adalah demi romantisme masa kecil, botok jamur khas Emak. Sayangnya masih belum oke, belum dapat. Tapi, inilah bonusnya! Saya yakin orang-orang di luar sana menyebutnya sebagai Wanderlust.

Soal jamur yang saya ingat, adalah sebentuk hasil 'panen' Mbah Kung di tanggul Brantas selagi mencari rumput untuk makanan pokok si Nganu. Em, saya tidak tau apakah beliau benar-benar pernah menamakannya, seekor kuda cokelat pekat penarik dokar keluarga kami. Berjaya, begitu berjaya. Sebelum tanda-tanda keberhasilan revolusi industri menyentuh setiap sudut pasar kecamatan, mobil angkutan pedesaan.

Gambar satu diambil tepat tiga hari sebelum move-on seratus persen dari Surabaya menuju Jogja. Ya, untuk selanjutnya kami sekeluarga akan menetap di Jogja. Adalah gambar kedua, Sancaka Pagi yang dijepret pada September lalu dengan kamera ponsel. Kedua gambar dimasak melalui dua hingga tiga kali penyaringan.

29 Desember 2017

Terima Kasih Dua Ribu Tujuh Belas


[20 NOV | 08:18] Usianya kurang lebih enam puluhan. Berkerudung masa kini dan berjarik. Melayani pembeli sembari menggoreng beberapa tusuk baso dengan kompor gas satu tungkunya. Juga membungkus nasi kucing setelahnya. Berniaga seorang diri tepat di sisi timur ujung ringroad Gamping, sebuah angkringan dalam gerobak dorong. Buka hanya di siang hari, meski kemarin baru tutup menjelang maghrib. Tidak berjualan di malam hari semata-mata karena di sekitar lokasi ada angkringan lain yang buka pada jam malam. "Manut mawon," katanya. Lalu, apa alasanku untuk mengeluh soal ini itu?

[07 DES | 06:43] Pagi ini untuk kali kedua aku mampir dari tugas pagi hari di kawasan pasar Gamping, Sleman. Angkringan Bismillah oleh seorang perempuan berusia enam puluhan. Tahukah apa yang membuat kakiku terhenti tepat sebelum turun dari motor? Di sudut kiri bawah spanduk depan warung tertulis, "25% Keuntungan Disedekahkan." Lalu, apakah 'precious' dan 'priceless' memiliki kedekatan makna dalam sastra Inggris? Ah... sudah Jumat lagi. Jangan lupa jaga kesehatan!

Visualisasi dan suara hanya pemanis. Masih banyak sisanya di tempat 'ngarsip' baru saya, Dribbble. Temukan juga yang sejenis di tempat penyimpanan arsip dengan dimensi lebih panjang dan lebar di Behance. Beberapa ada pula di channel YouTube saya dalam bentuk tutorial seperti video di atas.

22 Oktober 2016

Anda Memasak, Saya Sediakan Bukunya


Setengah satu dini hari, seorang emak-emak mengubungi via email. Katanya baru saja dia membeli item yang cantik ini, namun hanya menemukan file pdf yang benar-benar dapat dibuka. Beberapa file lain tampak sangat asing bagi Photoshop CS5 di komputernya. Ceritanya, si Emak akan menghadiahkan sebuah kejutan berbentuk buku resep masakan Italia untuk menantu barunya, tetapi tidak ingin kejutan itu gagal saat bertanya seputar bagaimana cara mengoperasikan komputer kepada anak lelakinya. Ya, item ini hanya support untuk InDesign CS4 ke atas. Selamat belajar, mak. Semoga sukses untuk kejutannya. Tenang, anakmu tidak ada dalam daftar pertemananku.

Gurih 86 Recipe Book template. Setiap piksel dan goresannya dikerjakan dengan sepenuh hati. Tersedia dengan fitur Character/Paragraph Styles untuk Adobe InDesign CS4 atau versi terbaru. Cocok bagi emak-emak pecinta buku masak, tukang setting, ataupun koki yang bekerja paruh waktu sebagai media artist.

 

9 September 2015

Story, Style, I Quit!


I missed my phone in this pic. It has a role as shooter for my daily companions; a pocket, 10 GB internet prepaid card, one of design book trilogy, -1.5 glasses, Evoque diecast, a mouse, 8% caffeine white coffee, and 13" ZenBook. Yes, last May i decided to resign from my nine years job and focus as a self-employed editorial designer.

Hehe... Maaf bukan dibajak tapi memang saya baru online lagi setelah hiatus sepanjang tahun. Sampai kapan? Entahlah! mungkin sebelum offline lagi untuk melakukan banyak hal menarik di luar sana, sana, sana dan sana.

Penting? Entahlah! Lalu apa manfaatnya bagi saya, hah? Jawab! *plakkkk!!!

17 Juli 2014

Gadget

https://www.flickr.com/photos/fiz-online/sets/72157645648724106/

Dua bulan tanpa ponsel itu seperti hidup di jaman es. Hanya saja jika saat itu belum ada jejaring sosial, maka hari ini kita sudah punya Facebook yang untuk sementara waktu dapat mensubstitusi fungsi dasar sebuah ponsel. Oh ya, kali ini kita akan membahas tentang gadget, sebentuk peranti kasar yang berpadu dengan peranti lunak sebagai pendukung kehidupan manusia sehari-hari. Tanpanya kita bisa bersantai sambil membaca tabloid kertas atau bercengkerama dengan sesama manusia selama mungkin. Independen? Tentu saja. Karena saya tidak berafiliasi dalam bentuk apapun dengan pabrik manapun.
Mengapa ini, bukan itu? Selain karena kebutuhan, beberapa fitur berikutlah yang membuat saya menjatuhkan pilihan ke produk yang sempat terkendala di Dirjen Bea dan Cukai itu.
  • Secara teori benda ini berinti dua, akan tetapi berkat dukungan teknologi Hyper-Threading sistem operasi akan membacanya sebagai pekerja keras berinti empat.
  • Kaca depan sekuat kingkong. Meski begitu, lalu apa salahnya berjaga-jaga dari goresan jenis apapun. Thanks to Plastik Antiminyak.
  • Dua tombol fisik, power dan volume up/down. Itu saja! Sisanya biarkan elektrik.
  • Kamera disertai flash.
  • Harga terjangkau untuk setandan teknologi yang diusungnya.
  • Istimewa, karena untuk meminangnya harus menunggu selama 61 hari, siang dan malam.

24 Mei 2014

Menyederhanakan Sesuatu yang Kompleks


Tentang apa yang saya dapatkan setengah tahun ini, sungguh tidaklah terlalu penting. Hanya beberapa fenomena yang sedikit merubah cara pandang saya terhadap hal-hal kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Membaca tabloid, mengurangi konsumsi kopi, membeli CD original, berkacamata, bahkan hidup tanpa ponsel adalah sejumlah cara baru saya menikmati hidup dengan lebih simpel.
Terhitung sejak awal Mei, maka genap setengah bulan saya hidup tanpa ponsel. Dengan begitu, aktivitas konvensional seperti bersantai sambil membaca tabloid kertas bisa terlakoni kembali. Tanpa ponsel, saya lebih bisa bercengkerama dengan sesama manusia selama mungkin. Suatu bentuk sosialisasi sederhana yang akhir-akhir ini sukar dilakukan dengan gadget di tangan. Begitu menyenangkan, karena Tabloid Kertas dan Bercengkerama belum dijual di Android Market.
Berikutnya tentang musik. Sebelumnya, tidak ada salahnya jika kita meluangkan waktu sejenak untuk menonton sebuah film dokumenter Artifact (2012) atau tayangan Music Everywhere di TV. Sudah rampung? Lalu, semoga kebiasaan yang satu ini bisa mendukung eksistensi para personel yang hidup dan berjuang di dunia musik, "Sebisa mungkin hindari pembajakan, belilah CD original jika masih tersedia di toko musik!" Bukankah lebih nyaman mendengar musik dengan bit rate 1411 kbps via CD daripada 128 kbps hasil download gratisan? Cobalah!
Oh ya, masih ingatkah kawan dengan posting saya tentang game beberapa waktu lalu? Itulah salah satu penyebab otot silaris di kedua mata saya semakin kacau dalam hal akomodasi. Satu game dalam durasi ratusan jam dari jarak kurang dari semeter. Benar-benar melelahkan. Efek samping yang berhasil diraih adalah sulit membaca subtitle film layar lebar dari deret kursi K. Lalu, hasil tes mata pun mencantumkan angka -1,25. Banyak tawaran terapi mandiri untuk memulihkan penglihatan dalam jangka waktu lama. Juga iklan seputar alat pemijat yang bisa menyembuhkan mata minus, tapi sukar didapat. Singkat cerita, terpilihlah kacamata sebagai solusi cerdas nan taktis untuk mengatasi rabun jauh.
Di antara sejumlah poin di atas, mengurangi konsumsi kopi adalah yang paling sukar dilakukan. Jika merupakan suatu kewajiban, maka saya harus bersiap dengan segala konsekuensinya, seperti sakit kepala yang teramat sangat pada pagi hari menjelang siang. Belum lagi ditambah kontraindikasi mata berair, nyeri otot bahu dan potensi otak yang menurun drastis. Solusinya? Saya memutuskan untuk pindah mazhab dari pengagum kopi hitam menjadi pemuja kopi putih. Sederhana, bukan?

Original

8 Januari 2014

Jeng-jeng Sekaten


Baiklah, kali ini saya benar-benar harus rehat untuk sementara waktu, setelah memikul tugas ekstra sepanjang dua setengah bulan terakhir. Lagipula, bagi saya naik cetak adalah nikmat yang patut dirayakan dengan suka cita. Jika ditimbang, lima karya mungkin sebanding dengan satu minggu liburan ke luar kota untuk sekedar jalan-jalan melepas penat. Jeng-jeng kata orang Semarang.
Selain (tentu saja) pulang ke rumah mertua, misi liburan kali ini adalah menengok keramaian Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Lor Yogyakarta. Barangkali ada yang menarik di sana, maka turut terlibat sebuah poket bongsor berlensa tanggung 25mm WIDE dengan 12x optical zoom sebagai peranti dokumentasi. Jadi, DSLR dan kamera ponselnya sementara minggir dulu.
Usai berkemas dan mengisi ulang baterai aneka gadget, sebuah pesan bergambar tiket kereta api masuk via group chat. Satu kejutan ringan yang tidak terencana, bahwa seorang teman lama juga berniat melakukan perjalanan ke Yogyakarta sore itu dalam rangka menghadiri sebuah hajatan. Setio namanya, teman satu kelas yang sempat hilang ditelan bumi pada semester-semester akhir kami kuliah. Ah, sulit dipercaya! Kami berdua memiliki tiket untuk kereta dan nomor gerbong yang sama. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya tidaklah jauh dari reuni kecil-kecilan di antara kami. Obrolan seputar keluarga, pekerjaan, kegemaran baru, fotografi, maupun jenis kamera, mengalir begitu saja untuk beberapa jam ke depan. Begitu seterusnya, hingga kami turun dari kereta dan berpisah di Stasiun Tugu.
Kembali ke Pasar Malam Sekaten. Secara etimologi, istilah Sekaten berasal dari rangkaian kata syahadatain atau dua kalimat syahadat. Nama Sekaten diperoleh dari fungsi awal digelarnya pasar malam semacam ini pada zaman wali songo, yaitu untuk menyebarkan agama Islam melalui jalur budaya. Adapun hiburan yang ditampilkan pada saat itu adalah pagelaran wayang kulit dengan tiket masuk berupa ucapan dua kalimat syahadat.
Zaman telah berubah, wayang kulit yang dulunya merupakan hiburan tunggal dalam Pasar Malam Sekaten telah berganti oleh wahana-wahana modern seperti ombak laut, kora-kora, tong setan, komedi putar, rumah hantu, hingga bianglala. Kecuali ombak laut yang turut menambahkan adegan akrobatik melayang di udara untuk para pemutarnya, semua wahana di atas dapat dinikmati pengunjung dengan rata-rata tiket seharga 8.000 rupiah.
Beruntung saya tiba di lokasi selepas gerimis mengguyur Yogyakarta dari sore. Itulah yang saya cari. Bukan beceknya lapangan, tapi lebih pada absennya debu yang identik dengan lapangan tanpa rumput seperti Alun-alun Lor. Waktu pun masih cukup sore untuk memulai eksplorasi setiap sudut pasar malam.
Dari area bianglala, saya bergeser menuju lapak para penjual makanan dan mainan. Biar lebih dapat di human interest-nya, pikir saya. Kembang gula dan kapal minyak, dua macam cinderamata itu saya pilih sebagai oleh-oleh untuk dua orang keponakan yang sedari tadi mengikuti pergerakan saya ke sana kemari. Karena itu pula eksplorasi kali ini tidak bisa optimal, terikat jam malam untuk segera mengembalikan anak-anak itu kepada empunya. Jadi, ini saja yang dapat saya rekam melalui kamera poket bermode Pemandangan Malam, dengan editing sewajarnya.


18 September 2013

Fiksi Penyiar Radio


Selamat pagi sahabat. Sebuah komposisi dari Raisa siap menemani kita memulai aktivitas pagi ini, Use Somebody (Kings of Leon Cover). Diambil dari special acoustic performance, Music Everywhere NET TV. Just feel the beat! 

P: Halo, matur nuwun masé, lagunya wenak, gurih tenan!
H: Ya, mas. Dengan siapa ini?
P: Saya Paijo dari Bantul. Habis dengar lagu itu, saya langsung ambil koleksi Raisa saya di rak samping kulkas. Setelah tak bolak-balik bungkusnya kok ya ndak ada yang
judulnya Use Somebody ya? Sempat juga saya puter CD-nya kebalik, siapa tau, nyempil di baliknya, eh ternyata tetep ndak ada e'. Terus dari kompilasi mana ya masé dapat yang itu?
H: Itu kompilasi spesial, mas Paijo. Tidak ada albumnya, di-rip langsung dari video performance Music Everywhere NET TV.
P: Oh, pantes! Tapi bisa sejernih itu ya? Kalau ndak salah saya dengarnya bisa nyampe 320 kbps ya mas? Oke lah, besok saya rekues lagi nggih! Lagi-lagi yang gurih kemripik. Pareng, saya mau berangkat dulu ke Giwangan. Hehe... Biasa lah mas, tugas harian jaga peron. Wassalamualaikum.
H: Mugi berkah mas Paijo. Waalaikum salam.

11 Mei 2013

Bangkalan

Dari tujuan awal perjalanan berupa Abon Tongkol dalam kemasan, saya berusaha menambahkan poin lain dalam itinerari jalan-jalan kali ini. Bukankah sangat disayangkan apabila perpaduan cuaca cerah dan mood bagus hanya akan menghasilkan beberapa bungkus buah tangan? Lagipula, saya memang perlu jalan-jalan keluar kota lagi dengan tas di punggung, seperti para backpacker melakukannya. Oke, sekarang Mercusuar Sembilangan sudah masuk dalam daftar, setelah Jembatan Suramadu dan Abon Tongkol.
Berbekal tas punggung dan ponsel pintar hadiah ulang tahun Nyonya Besar, perjalanan dimulai dari kawasan Surabaya Selatan menuju kota Bangkalan via jalur nontol. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah lima puluh dua menit untuk jarak tempuh tiga puluh delapan kilometer. Ada alasan ketika saya lebih percaya navigasi ponsel daripada peta kertas yang baru bisa terbaca setelah dipadu dengan kompas. Sangat melelahkan jika pengalaman di Solo tahun lalu terulang lagi, enam belas menit untuk jarak 1,5 kilometer.
Suramadu, beberapa menit kemudian sampailah saya di sana. Jembatan terpanjang di Indonesia itu telah melintasi selat Madura sejak 2009. Ada sensasi tersendiri saat menyeberangi jembatan seharga 4,5 triliun itu. Perasaan bangga sebagai warga Jawa Timur sekaligus takjub, campur aduk jadi satu. Sejenak saya menyempatkan berhenti di bentang tengah untuk ambil gambar, meski sebenarnya aktivitas semacam itu sangat ilegal.
Perjalanan berlanjut menuju pusat kota Bangkalan. Indikator sinyal HSDPA maupun 3G di ponsel terlihat naik turun. Syukurlah, beberapa spot seperti Alun-alun, Masjid Agung Bangkalan dan lokasi Abon Tongkol masih terakses foursquare. Sementara itu mendung terlihat berarak di atas kota, siap turun sebagai air hujan di musim pancaroba ini. Semoga cuaca cerah tetap mendukung aktivitas snapshot dalam trip tanpa kamera digital kali ini.
Baiklah, saya mengaku! Sebenarnya, Abon Tongkol adalah tujuan utama yang lambat laun menjadi sekunder karena faktor jarak dan daya tahan tubuh. Jadi, setelah check in di Masjid Agung, mencari rute si Abon, sampai di lokasi, barang dipilih, menebusnya dengan beberapa lembar puluhan ribu dan memasukkannya ke dalam backpack, satu lagi sesi perjalanan yang harus dituntaskan sebelum petang, Mercusuar Sembilangan. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah empat belas menit untuk jarak delapan kilometer dari pusat kota.


Asingnya medan rupanya belum berhasil membuat laju motor saya melambat. Sesekali, kebingungan akan opsi ruas jalan mampu dipecahkan oleh mesin pemandu lokasi yang kala itu merangkap juga sebagai penunjuk waktu, alat komunikasi maupun kamera. Keterbatasan navigasi ponsel baru terasa ketika lokasi yang ditampilkan hanya berupa tempat-tempat umum seperti balai desa atau sekolah, tidak untuk tempat-tempat terpencil. Itulah alasan yang melatarbelakangi pertanyaan saya seputar lokasi Mercusuar Sembilangan kepada seorang penduduk setempat. "Ikuti saja jalan item, Mas!" jawab seorang bapak di depan teras rumahnya. Memang benar, setelah satu kilometer mengikuti jalanan sempit beraspal hitam dari ujung desa, sampailah saya di sebuah persimpangan kecil yang mengarah ke sebuah objek tinggi di tepi pantai. Sein kanan menuju Mercusuar Sembilangan.
Hanya dengan empat ribu rupiah untuk parkir motor dan bea masuk lokasi, saya telah mengantongi izin akses ke seluruh bagian mercusuar. Bangunan yang sepenuhnya terbuat dari lempeng-lempeng logam itu didirikan pada pemerintahan Belanda tahun 1879. Fungsi dasar bangunan setinggi enam belas tingkat itu adalah sebagai pemandu kapal-kapal Belanda yang akan bersandar di pelabuhan Tanjung Perak.
Berbekal semangat dan kamera ponsel alakadarnya, saya mencoba naik dari satu lantai ke lantai berikutnya. Di masing-masing lantai, saya mendapatkan sudut pandang berbeda untuk setiap benda di permukaan tanah yang biasa-biasa saja dalam sudut pandang mata manusia, bahkan membosankan. Hijaunya vegetasi bakau, detail pepohonan di tepi jalan, maupun warna jingga atap rumah-rumah penduduk dapat terekam sempurna dalam format digital berkat intensitas cahaya matahari yang benar-benar tinggi siang itu. Inilah yang saya suka dari musim kemarau dan paket penyertanya, langit biru, awan tinggi, matahari bersinar terang. Lalu, apa lagi yang kurang?

7 Mei 2013

Sebuah Siang di Moselle


Perjalanan darat dari Nuremberg (Jerman) menuju Grimsby (Inggris) kala itu benar-benar menguras tenaga. Selain jarak tempuh yang super jauh, rupanya cuaca ekstrim seakan tidak merestui misi di awal musim panas itu. Ladang bunga, pemandangan alam khas Eropa di setiap sisi jalan, kopi hitam, maupun tembang-tembang dangdut Evie Tamala adalah hiburan mewah pengusir sepi yang selalu dapat mendongkrak suasana hati. Soal lagu, saya tetap menyukai kompilasi cinderamata dari abad ke-20 itu, terutama komposisi Kangen dan Bandung-Yogya. Adapun untuk kopi hitamnya, seperti biasa hanya mampu bertahan di dalam gelas dari masa selepas sarapan hingga tujuh jam ke depan.

15 Agustus 2012

Bab Dua


Matahari belum terlalu tinggi saat kami menuju Pos Jaga Bekol di sebelah utara Guest House. Tujuan kami satu, mencari informasi seputar pendampingan untuk paket tracking beberapa jam mendatang. Dari dialog antara teman kami Ady dan Bapak Penjaga Pos yang hanya berdurasi kurang dari tiga menit, kami diharuskan bergeser (sekali lagi) ke Pos Jaga Resort Bama yang berjarak tiga setengah kilometer untuk mendapatkan guide. Baiklah, lagipula cepat atau lambat kami memang harus ke Bama untuk melakukan ritual sarapan siang.
Seperti yang seharusnya terjadi, hari masih relatif pagi untuk berjumpa kembali dengan aspal bergelombang sesuai deskripsi tentang jalanan rusak tempo hari. Dari atas kendaraan, kami sempat menikmati atraksi rusa menyeberang jalan dan kawanan kera abu-abu yang berteduh di bawah rimbunnya pepohonan. Jauh di depan, tampak dua orang turis yang telah kami temui sebelumnya, Veronica dan Zdenka, berjalan ke arah pantai. Mereka telah berjalan kaki setidaknya dua kilometeran dari Bekol, tanpa seorang pemandu. Oke, sepertinya mobil kami masih muat untuk ditambah dua penumpang lagi.
Jika hari pertama fokus eksplorasi adalah savana, maka hari berikutnya kami berupaya menepati itinenari untuk mengupas sisi lain Baluran di Resort Bama, pantai. Tepat sekali jika penjaga kantin merekomendasikan Dimas, seorang ranger yang waktu itu 'tersedia' sebagai pemandu tracking. "Ber-tracking-lah dulu saudara sembari menunggu kami menanak nasi..." atau semacam itulah pesan yang sempat saya tangkap dari dua juru masak kantin. Ya, kami pun sepakat untuk melakukan tracking jalur pendek berupa susur pantai, melintas jembatan mangrove dan melibas rute bird watching.
Kesan seputar pantai Bama? Lumayan untuk pasir putihnya, menggugah selera untuk kerimbunan hutan bakaunya. Bagaimana dengan jembatan mangrove? Tunggu dulu! Berdasarkan literatur bergambar dari blog beberapa minggu sebelumnya, saya dan Ady merasa tampilan jembatan mangrove kali ini sama sekali jauh dari yang diharapkan, lebih eksotis. Tampaknya, perbaikan infrastruktur Taman Nasional telah menyentuh setiap ruas jembatan maupun dermaga yang dulunya sempat terabaikan. Lalu bagaimana dengan rute bird watching? Benar-benar rimbun, banyak nyamuk, tetapi menyegarkan. Cocok sebagai pengobat rindu kami selaku warga metropolis pada hutan rimba.
Akhirnya, kami harus cepat kembali untuk menikmati sarapan di kantin Resort Bama bersama nasi goreng dan sekaleng kopi cair. Juga beberapa menit ke depan bersama sabun mandi dan handuk di Guest House Bekol. Tak lupa packing untuk perjalanan berikutnya, eksplorasi sore di pantai berpasir putih lain yang berjarak 162 kilometer ke arah barat daya.
Oh ya, video di atas dibuat dengan sejumlah alat dan bahan yang relatif alakadarnya. Masih bersama poket bongsor berlensa 25 milimeter bawaan pabrik, Pinnacle Studio 12 edisi Ultimate, PC berotak dua tanpa kartu grafis, dan gambar mentah yang tidak cukup jernih berdimensi 1280x720 piksel. File jadi generasi 1.0 sempat dianggap melanggar paten karena memanfaatkan musik latar original dari Paloma Faith bertitel Technicolour.


7 Juli 2012

In Passion of Science, Baluran


Setelah menempuh delapan jam perjalanan dari Surabaya, sampailah kami di pintu gerbang Taman Nasional Baluran pada setengah tiga sore yang cukup terik di awal bulan Juli. Sesuai petunjuk dari petugas jaga di Pusat Informasi, kami harus menempuh 12 kilometer lagi untuk mencapai Guest House yang berada di Bekol Area. Sebenarnya terdapat dua lokasi Guest House, di Bekol dan Bama, hanya saja kami memilih Bekol dengan pertimbangan lokasi yang berdekatan dengan savana Bekol sebagai objek wisata andalan Baluran.
Perjalanan menuju Bekol terasa begitu lama karena mobil berpenggerak roda belakang kami harus melintasi jalan bergelombang di antara rimbunnya vegetasi hutan musim tropis. Sejenak kami benar-benar melupakan nikmatnya melaju di atas hotmix halus bermarka putih sepanjang 255 kilometer beberapa menit lalu.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menikmati keteduhan vegetasi evergreen. Sementara beberapa dari kami melakukan sesi pemotretan, saya berkesempatan untuk mengambil gambar sejumlah spesies tumbuhan eksotis seperti Gebang (Coripha utan Lamk.), jenis palem besar berbatang tunggal setinggi 15-20 meter. Tumbuhan ini begitu unik karena hanya sekali berbuah di akhir masa hidupnya, tepat sesudah daun-daunnya kering dan berganti dengan karangan bunga. Setelah menghasilkan buah dalam jumlah ribuan, pohon akan mati lalu tumbang dengan sendirinya. Tumbuhan lain yang kami temukan adalah liana berkayu serupa tuba dengan batang berbentuk pipih. Spesies yang oleh penduduk setempat diberi nama Rawetan ini memanjat tumbuhan lain untuk bersaing mendapatkan cahaya matahari.
Dua ratus meter menjelang Guest House, mobil berhenti untuk ketiga kalinya. Senandung lagu berbahasa Bali dari stasiun radio di seberang lautan menjadi backsound pengamatan kami pada dua vegetasi berbeda yang tampak di masing-masing sisi jalan utama. Jika di sebelah kiri kami adalah hutan musim tropis, maka di sisi kanan terhampar luas savana dengan spesies dominan berupa rumput liar dan beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar seperti Pilang (Acacia leucophloea) dan Widoro bukol (Ziziphus rotundifolia).
Nyatanya, tidak salah jika kami memilih tempat menginap di Bekol. Meski berjarak 3 kilometer dari kantin di Resort Bama, setidaknya keberadaan savana seluas 300 hektar dan menara pandang di atas bukit cukup bisa menutupi kekurangan itu. Maka, keesokan harinya kami memutuskan untuk mendaki bukit pagi-pagi demi berburu sunrise dan mengamati aktivitas satwa dari atas menara. Saat berjalan menuju menara, kami bertemu dengan dua wisatawan asal Ceko, Veronica dan Zdenka. Tampaknya mereka sedang menunggu petugas untuk memandu mereka mengeksplorasi kawasan Bekol. Lantas saya pun mengajak mereka turut serta, "Let's get the sun!"
Selanjutnya, dari atas menara pandang kami menikmati sajian panorama padang rumput luas berwarna kecokelatan lengkap dengan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berjalan membentuk barisan ke arah utara. Juga seekor mamalia besar soliter, kerbau liar (Bubalus bubalis) yang bergerak lamban menuju kubangan. Dua spesies tersebut melengkapi daftar menu pertunjukan hewan liar kami setelah hari pertama untuk spesies merak hijau (Pavo muticus), ayam hutan hijau (Gallus varius), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), dan banteng (Bos javanicus). Kecuali merak dan kera ekor panjang, tampaknya semua spesies yang ada memiliki kecenderungan untuk sukar didokumentasikan. Hal itu dikarenakan faktor cahaya, jarak, dan kelincahan objek yang sama sekali tidak berpihak pada jenis kamera saku besar berlensa 25 milimeter.
Cahaya matahari belum sepenuhnya menyinari setiap sudut savana Bekol. Dari menara pandang, kami berenam memutuskan untuk bereksplorasi di salah satu sudut savana yang hanya berjarak puluhan meter dari Guest House. Berbekal sebuah DSLR 550D, teman kami Ady menggelar sesi pemotretan bersama sejumlah model dadakan di antara rerumputan kering dengan latar belakang gunung Baluran yang masih berhias awan di bagian atasnya. Dengan posisi gunung di sebelah barat dan cahaya matahari pagi dari arah timur, saya merasa mendapatkan momen yang tepat untuk mengabadikan lukisan alam itu, tentu saja minus modelnya.

(Bersambung...)

3 Desember 2011

Kilas Balik


Memotret bagiku bukanlah sebuah profesi, hanya hobi yang berawal dari keisengan membawa kabur sementara sebuah kamera poket digital dari pabrik ke sebuah ladang kacang tanah di suatu tempat. Jadi, semoga tidak ada yang bertanya soal shutter speed atau istilah lain dengan kerumitan setara itu. Saat mood pas bagus, objek unik, cahaya pas, warna menarik, maka tinggal ambil angle yang pas, dan jepret. Perkara hasil itu urusan nomer pitulas.
Soal alat, tentunya merupakan keuntungan tersendiri bagiku yang pernah mencoba banyak merek kamera digital punya pabrik. Ya, setidaknya dari Pentax Optio keluaran tahun 2003, Sanyo S1, Nikon E5200, Lumix DMC-FX10, Lumix DMC-TZ3, Nikon Coolpix S3100, hingga DSLR umum Canon 1000D yang baru saja rusak di lensanya karena jadi sarang semut. Khusus yang belum tertulis, merupakan sebuah produk baru berlensa lebar, umur lima bulan, mengandung GPS, milik pribadi, dan tidak diperjualbelikan, Lumix DMC-TZ10.
Setelah dijepret, perlu kiranya gambar yang didapat sedikit dipoles agar tampak lebih cerah dan tajam. Bukan manipulasi, hanya edit biasa dengan penambahan tingkat kontras dan kuantitas warna. Inilah tahap yang cukup menyenangkan, bebas melakukan eksperimen bersama seperangkat piranti pengolah gambar dan sejumlah ide. Boleh ditambah secangkir kopi, atau galundeng anget, atau samsu eceran. Bebas lah!
Sesi terakhir adalah sebarkan, bisa melalui jejaring sosial, galeri pribadi, atau di mana saja, agar orang lain turut menikmati suatu bentuk keindahan duniawi dari sudut pandang kita. Abaikan celaan, tampung masukan, dan terima kritik yang bersifat membangun. Seperti yang pernah dikatakan Paman Tyo, "Yang penting motret. Bagus gak bagus yang kita pakai adalah ukuran kita."
Oh ya, bagi yang bertanya soal galundeng, silakan mengingat roti goreng berbentuk bantal yang biasa dijual bersama cakue. Terus bagi yang ingin melihat sosok Lumix DMC-TZ10, bisa melihat ilustrasi di atas, baris satu kolom lima. Adapun galeri jepretan saya, tetap ada di kampung sebelah dan tidak berpindah-pindah.

26 Oktober 2011

Tentang Aku, Kamera dan Blog


Pada akhirnya, aku pun menyadari bahwa bercerita dengan menggunakan gambar-gambar tertentu jauh lebih menyenangkan daripada tidak bercerita sama sekali. Dari sekedar catatan perjalanan yang memampang sejumlah foto dari kamera poket dan DSLR di blog ini, teknik itu pun berlanjut dengan memanfaatkan kamera ponsel setengah baru dan blog yang benar-benar baru di kampung sebelah, fisterous.
Dengan kamera ponsel, tentu saja intensitas jepret-menjepret jadi lebih tinggi karena alasan kepraktisan dalam membawa gadget tambahan selama beraktivitas sehari-hari, "Masa, bayar rekening listrik saja harus bawa kamera digital!" Oke, meskipun kesan asal-asalan itu jauh lebih kentara jika ditinjau dari alat yang pada prinsipnya digunakan untuk bertelepon dan mengirim sms. Coba kita cuplik pernyataan dari seorang kawan fotografer yang asli Solo, Dony Alfan, "Memotret dengan ponsel kamera itu beban psikologisnya tidak seberat ketika memotret dengan DSLR - yang sering kali ada 'tuntutan' harus bikin foto bagus."
Berikutnya, tempat parkir segala jenis gambar yang diambil dengan kamera ponsel itu bernama fisterous. Semua hasil jepretan yang tersaji tidak melewati proses editing ataupun manipulasi sedikitpun. Satu kata untuk judul setiap posting, biar sisanya gambar dan caption pendek yang bercerita. Tidak memaksa, tapi harus satu kata. Penting? Tidak terlalu! Intinya, daripada tidak di-share lebih baik di-share.

2 Juni 2010

Album Kenangan Lagi


Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, album kenangan kali ini tidak lagi bermain di kisaran warna antara hitam, putih ataupun sepia yang terlanjur tenar akan kekuatannya dalam menciptakan kesan sebuah memori di masa lalu. Kami, segenap tim kreatif berusaha memutar otak untuk membuat sesuatu yang benar-benar unik, berbeda, dan lebih segar. Untuk itu, sepertinya tidak ada masalah jika sebuah kenangan harus kaya akan warna. Itulah "ide brilian" kami dari balik dapur produksi. Nyatanya, begitu sulit mengkondisikan para model agar berkostum bebas, rapi dan berwarna cerah. Kalaupun spesifikasi pertama dan kedua telah terpenuhi, faktanya masih saja terdapat kesulitan untuk memenuhi spesifikasi terakhir, berwarna cerah.
Konsep bandara sebagai lokasi pemotretan sebenarnya sudah tercetus jauh hari sebelum kelulusan, tepatnya setahun yang lalu untuk angkatan yang lebih senior. Jika saat itu setting bandara terpaksa harus dihilangkan dari daftar opsi karena masalah kebijakan, maka kali ini kami berupaya mengajukan izin agar diperbolehkan mengeksplorasi bagian luar terminal untuk pemotretan dua puluh lima model dadakan yang terbagi menjadi dua sesi. Hasilnya? Nihil, tidak ada balasan apapun dari pihak bandara. Di sisi lain, kendala waktu tampaknya harus diperhitungkan ulang mengingat kedua puluh lima model akan sulit dipertemukan lagi dalam jangka waktu beberapa minggu ke depan. Akhirnya, sesi pemotretan itupun terpaksa dilakukan dengan status "Illegal Operation" agar job description yang telah disusun tetap berjalan sesuai rencana.
Sekadar berbagi, silahkan unduh sampel buku kenangan dua tahun lalu dalam format digital PDF di sini. Tak lupa, klik juga link ini untuk mendapatkan sampel buku kenangan tahun lalu dengan tema kereta api. Khusus tahun ini, album kenangan tidak lagi berupa buku, melainkan CD interaktif berformat flash projector dalam tampilan widescreen 2300 x 1300 piksel. Sampel disederhanakan dalam bentuk PDF di link ini. Selamat menikmati, selagi gratis!


3 September 2009

Kaos Strip


Gambar #1

Pada dasarnya saya adalah seorang part-time blogger yang menghabiskan sebagian besar waktu di depan monitor untuk blogwalking, berkomentar dan mengisi shoutbox. Tentunya dengan berpedoman pada budaya berpikir (think), membaca (read) dan menulis (write). Untuk budaya itu sendiri, pada kenyataannya tidaklah selalu berurutan secara kronologis.

Gambar #2
Entah, sejak mengenal FB, sebagian besar atau bahkan keseluruhan ide posting yang seharusnya masuk blog harus terpenggal menjadi kesatuan yang lebih singkat, praktis, padat dan kurang jelas. Selanjutnya, ide itupun masuk ke Wall. Anehnya, meskipun kurang ekspresif, layanan yang satu ini terbukti sukses membuat banyak orang kecanduan, termasuk saya.

Gambar #3
Hingga saat ini, dalam hitungan jam saja sejumlah posting mini telah terpublikasi via FB. Di sisi lain, saya harus meluangkan waktu 29 bulan untuk menghasilkan 80 posting di blog. Sungguh merupakan sebuah kesenjangan. Meski begitu, apapun yang terjadi saya tetaplah seorang blogger paruh waktu yang masih harus 'berterima kasih' pada blog. Blog must go on...!!

Cerita Strip
Media strip dicetak di atas kain Cardet dengan teknik sablon biasa. Kaos merupakan sampel dan tidak diperjualbelikan. Jika memang terlanjur terpikat, silahkan download gambarnya selagi gratis. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika pada kesempatan yang lain kaos-kaos itu akan diproduksi secara partai dan dijual eceran.