Tampilkan postingan dengan label fotogra-fis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fotogra-fis. Tampilkan semua postingan

2 Februari 2023

Travel Snapshot | Dan Saya Membuat Entry Lagi

Baiklah kawan-kawan, saya tidak pernah posting di sini beberapa tahun terakhir! Apa kabar? Silakan menikmati sedikit gambaran tentang Jogja (tempat saya tinggal sekarang) dalam 27 panel. Berisi 8 gambar hutan, 8 pantai, 3 jalanan, 3 sawah, 2 gunung, dan 3 warung. Bagian dari seri travel snapshot saya sejak 2009.

Gambar-gambar itu diambil saat bumi sedang dalam masa pemulihan dari segala jenis aktivitas menyakitkan oleh manusia pada kurun waktu seratus tahun terakhir. Kondisi yang teramat langka namun epic dengan langit biru yang berbeda, awan tinggi, juga sore hari yang cerah namun terkadang kuning. Beruntung saya berhasil mendokumentasikannya selama satu tahun penuh dari segala penjuru Yogyakarta, meski tidak setiap hari.

Ditangkap dengan sensor kamera smartphone yang tidak lebih besar dari kuku jari kelingking, setiap gambar selanjutnya melewati proses peningkatan kualitas (enhanced) dengan Adobe Lightroom Premium. Sebuah teknologi mutakhir yang baru muncul pada Februari 2019. Oh ya, kecuali gambar tetes-tetes air hujan berlatar mendung gelap di sisi kanan bawah itu, semua gambar diambil mulai 23 Desember 2020 hingga 18 Desember 2021. Adapun untuk tetes-tetes air diambil pada 9 Desember 2019 selepas ashar, dalam sebuah perjalanan senin sore ke arah barat kota.

Been trying to get in touch with my soul, then I found #design #snapshot and #traveling did a great job.

28 April 2019

Jogja Lagi (My Insta Recap)


Jika mereka punya Hollywood, maka kami punya Gamplong Studio Alam. Adalah sebuah film set milik Mooryati Soedibyo yang telah dihibahkan kepada Pemerintah Daerah Sleman untuk selanjutnya dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Sultan Agung The Untold Love Story (2018) adalah film pertama yang lahir dari studio ini. Ada pula Bumi Manusia, dan tentu saja Goyang Jempol-nya Kill the DJ.

Dari Gamplong, mari kita sedikit bergeser ke arah barat. Baik, setelah bosan dengan kebosanan akan trainspotting, kini tiba saatnya untuk kembali dengan sebuah spot unik dari seputaran Kalisoka, Margosari, yang secara spesifik akan tertulis 55652 dalam kode pos. Oh ya, jika saja foto di bawah ini diambil dengan kamera 360 derajat, maka hanya dengan membalikkan badan Anda akan dapat menikmati jalur rel menikung ke arah Wates berlatar perbukitan Menoreh dan jingganya matahari sore. Ah, jika saja!


19 April 2018

Antimainstream


Konon, Jogja punya trayek bus terpanjang di dunia, Jogja - Paris. Model pada gambar di atas hanyalah pemanis. Diambil dari kawasan pantai Depok, Parangtritis (Paris) yang mendadak tenar sejak gank Cinta AADC mampir dan selfie-selfie di sana dua tahun lalu. Dari pasar ikan (TPI) Depok lurus saja ke arah timur menuju gumuk pasir Parangkusumo.

Sebenarnya, dengan bergeser beberapa menit saja kita bisa menemukan spot yang menawarkan sudut pandang antimainstream dari sejumlah destinasi wisata yang sudah umum di seputaran Jogja. Parangtritis misalnya, bergeserlah 2,7 kilometer ke arah timur untuk mendapat view garis pantai nan panjang dari atas bukit Paralayang, Watugupit. Atau bangunan Pulo Cemeti yang epic dengan hanya bergeser beberapa puluh meter dari situs Sumur Gumuling. Citra Scholastika pernah ambil gambar untuk video klipnya di sana, Pasti Bisa.

Lalu, bagaimana dengan kawasan pantai? Baron, pantai yang pas untuk piknik keluarga karena ombak yang tidak seberapa besar, pun menawarkan view hidden spot yang hanya dapat dinikmati dari atas Mercusuar Tanjung Baron. Bergeserlah 400 meter ke arah selatan dengan berbekal 2000 perak untuk naik ke atas bukit dan 10.000 untuk naik ke puncak menara. Oh ya, gambar terakhir adalah situs Ratu Boko. Berjarak 3,3 kilometer ke arah selatan.

Catatan #1: Semua gambar diambil dengan kamera smartphone berlensa 13 MegaPixel bawaan pabrik. Diolah dengan Adobe Lightroom versi mobile dengan sesekali melibatkan Snapseed.

Catatan #2: Jogja, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.


13 Maret 2018

Jogja dalam Romantisme


Cinderamata hari kemarin, sate jamur dari warung spesialis jamur di jalan Magelang. Sebenarnya, mampir ke sana adalah demi romantisme masa kecil, botok jamur khas Emak. Sayangnya masih belum oke, belum dapat. Tapi, inilah bonusnya! Saya yakin orang-orang di luar sana menyebutnya sebagai Wanderlust.

Soal jamur yang saya ingat, adalah sebentuk hasil 'panen' Mbah Kung di tanggul Brantas selagi mencari rumput untuk makanan pokok si Nganu. Em, saya tidak tau apakah beliau benar-benar pernah menamakannya, seekor kuda cokelat pekat penarik dokar keluarga kami. Berjaya, begitu berjaya. Sebelum tanda-tanda keberhasilan revolusi industri menyentuh setiap sudut pasar kecamatan, mobil angkutan pedesaan.

Gambar satu diambil tepat tiga hari sebelum move-on seratus persen dari Surabaya menuju Jogja. Ya, untuk selanjutnya kami sekeluarga akan menetap di Jogja. Adalah gambar kedua, Sancaka Pagi yang dijepret pada September lalu dengan kamera ponsel. Kedua gambar dimasak melalui dua hingga tiga kali penyaringan.

8 Januari 2014

Jeng-jeng Sekaten


Baiklah, kali ini saya benar-benar harus rehat untuk sementara waktu, setelah memikul tugas ekstra sepanjang dua setengah bulan terakhir. Lagipula, bagi saya naik cetak adalah nikmat yang patut dirayakan dengan suka cita. Jika ditimbang, lima karya mungkin sebanding dengan satu minggu liburan ke luar kota untuk sekedar jalan-jalan melepas penat. Jeng-jeng kata orang Semarang.
Selain (tentu saja) pulang ke rumah mertua, misi liburan kali ini adalah menengok keramaian Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Lor Yogyakarta. Barangkali ada yang menarik di sana, maka turut terlibat sebuah poket bongsor berlensa tanggung 25mm WIDE dengan 12x optical zoom sebagai peranti dokumentasi. Jadi, DSLR dan kamera ponselnya sementara minggir dulu.
Usai berkemas dan mengisi ulang baterai aneka gadget, sebuah pesan bergambar tiket kereta api masuk via group chat. Satu kejutan ringan yang tidak terencana, bahwa seorang teman lama juga berniat melakukan perjalanan ke Yogyakarta sore itu dalam rangka menghadiri sebuah hajatan. Setio namanya, teman satu kelas yang sempat hilang ditelan bumi pada semester-semester akhir kami kuliah. Ah, sulit dipercaya! Kami berdua memiliki tiket untuk kereta dan nomor gerbong yang sama. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya tidaklah jauh dari reuni kecil-kecilan di antara kami. Obrolan seputar keluarga, pekerjaan, kegemaran baru, fotografi, maupun jenis kamera, mengalir begitu saja untuk beberapa jam ke depan. Begitu seterusnya, hingga kami turun dari kereta dan berpisah di Stasiun Tugu.
Kembali ke Pasar Malam Sekaten. Secara etimologi, istilah Sekaten berasal dari rangkaian kata syahadatain atau dua kalimat syahadat. Nama Sekaten diperoleh dari fungsi awal digelarnya pasar malam semacam ini pada zaman wali songo, yaitu untuk menyebarkan agama Islam melalui jalur budaya. Adapun hiburan yang ditampilkan pada saat itu adalah pagelaran wayang kulit dengan tiket masuk berupa ucapan dua kalimat syahadat.
Zaman telah berubah, wayang kulit yang dulunya merupakan hiburan tunggal dalam Pasar Malam Sekaten telah berganti oleh wahana-wahana modern seperti ombak laut, kora-kora, tong setan, komedi putar, rumah hantu, hingga bianglala. Kecuali ombak laut yang turut menambahkan adegan akrobatik melayang di udara untuk para pemutarnya, semua wahana di atas dapat dinikmati pengunjung dengan rata-rata tiket seharga 8.000 rupiah.
Beruntung saya tiba di lokasi selepas gerimis mengguyur Yogyakarta dari sore. Itulah yang saya cari. Bukan beceknya lapangan, tapi lebih pada absennya debu yang identik dengan lapangan tanpa rumput seperti Alun-alun Lor. Waktu pun masih cukup sore untuk memulai eksplorasi setiap sudut pasar malam.
Dari area bianglala, saya bergeser menuju lapak para penjual makanan dan mainan. Biar lebih dapat di human interest-nya, pikir saya. Kembang gula dan kapal minyak, dua macam cinderamata itu saya pilih sebagai oleh-oleh untuk dua orang keponakan yang sedari tadi mengikuti pergerakan saya ke sana kemari. Karena itu pula eksplorasi kali ini tidak bisa optimal, terikat jam malam untuk segera mengembalikan anak-anak itu kepada empunya. Jadi, ini saja yang dapat saya rekam melalui kamera poket bermode Pemandangan Malam, dengan editing sewajarnya.


11 Mei 2013

Bangkalan

Dari tujuan awal perjalanan berupa Abon Tongkol dalam kemasan, saya berusaha menambahkan poin lain dalam itinerari jalan-jalan kali ini. Bukankah sangat disayangkan apabila perpaduan cuaca cerah dan mood bagus hanya akan menghasilkan beberapa bungkus buah tangan? Lagipula, saya memang perlu jalan-jalan keluar kota lagi dengan tas di punggung, seperti para backpacker melakukannya. Oke, sekarang Mercusuar Sembilangan sudah masuk dalam daftar, setelah Jembatan Suramadu dan Abon Tongkol.
Berbekal tas punggung dan ponsel pintar hadiah ulang tahun Nyonya Besar, perjalanan dimulai dari kawasan Surabaya Selatan menuju kota Bangkalan via jalur nontol. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah lima puluh dua menit untuk jarak tempuh tiga puluh delapan kilometer. Ada alasan ketika saya lebih percaya navigasi ponsel daripada peta kertas yang baru bisa terbaca setelah dipadu dengan kompas. Sangat melelahkan jika pengalaman di Solo tahun lalu terulang lagi, enam belas menit untuk jarak 1,5 kilometer.
Suramadu, beberapa menit kemudian sampailah saya di sana. Jembatan terpanjang di Indonesia itu telah melintasi selat Madura sejak 2009. Ada sensasi tersendiri saat menyeberangi jembatan seharga 4,5 triliun itu. Perasaan bangga sebagai warga Jawa Timur sekaligus takjub, campur aduk jadi satu. Sejenak saya menyempatkan berhenti di bentang tengah untuk ambil gambar, meski sebenarnya aktivitas semacam itu sangat ilegal.
Perjalanan berlanjut menuju pusat kota Bangkalan. Indikator sinyal HSDPA maupun 3G di ponsel terlihat naik turun. Syukurlah, beberapa spot seperti Alun-alun, Masjid Agung Bangkalan dan lokasi Abon Tongkol masih terakses foursquare. Sementara itu mendung terlihat berarak di atas kota, siap turun sebagai air hujan di musim pancaroba ini. Semoga cuaca cerah tetap mendukung aktivitas snapshot dalam trip tanpa kamera digital kali ini.
Baiklah, saya mengaku! Sebenarnya, Abon Tongkol adalah tujuan utama yang lambat laun menjadi sekunder karena faktor jarak dan daya tahan tubuh. Jadi, setelah check in di Masjid Agung, mencari rute si Abon, sampai di lokasi, barang dipilih, menebusnya dengan beberapa lembar puluhan ribu dan memasukkannya ke dalam backpack, satu lagi sesi perjalanan yang harus dituntaskan sebelum petang, Mercusuar Sembilangan. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah empat belas menit untuk jarak delapan kilometer dari pusat kota.


Asingnya medan rupanya belum berhasil membuat laju motor saya melambat. Sesekali, kebingungan akan opsi ruas jalan mampu dipecahkan oleh mesin pemandu lokasi yang kala itu merangkap juga sebagai penunjuk waktu, alat komunikasi maupun kamera. Keterbatasan navigasi ponsel baru terasa ketika lokasi yang ditampilkan hanya berupa tempat-tempat umum seperti balai desa atau sekolah, tidak untuk tempat-tempat terpencil. Itulah alasan yang melatarbelakangi pertanyaan saya seputar lokasi Mercusuar Sembilangan kepada seorang penduduk setempat. "Ikuti saja jalan item, Mas!" jawab seorang bapak di depan teras rumahnya. Memang benar, setelah satu kilometer mengikuti jalanan sempit beraspal hitam dari ujung desa, sampailah saya di sebuah persimpangan kecil yang mengarah ke sebuah objek tinggi di tepi pantai. Sein kanan menuju Mercusuar Sembilangan.
Hanya dengan empat ribu rupiah untuk parkir motor dan bea masuk lokasi, saya telah mengantongi izin akses ke seluruh bagian mercusuar. Bangunan yang sepenuhnya terbuat dari lempeng-lempeng logam itu didirikan pada pemerintahan Belanda tahun 1879. Fungsi dasar bangunan setinggi enam belas tingkat itu adalah sebagai pemandu kapal-kapal Belanda yang akan bersandar di pelabuhan Tanjung Perak.
Berbekal semangat dan kamera ponsel alakadarnya, saya mencoba naik dari satu lantai ke lantai berikutnya. Di masing-masing lantai, saya mendapatkan sudut pandang berbeda untuk setiap benda di permukaan tanah yang biasa-biasa saja dalam sudut pandang mata manusia, bahkan membosankan. Hijaunya vegetasi bakau, detail pepohonan di tepi jalan, maupun warna jingga atap rumah-rumah penduduk dapat terekam sempurna dalam format digital berkat intensitas cahaya matahari yang benar-benar tinggi siang itu. Inilah yang saya suka dari musim kemarau dan paket penyertanya, langit biru, awan tinggi, matahari bersinar terang. Lalu, apa lagi yang kurang?

7 Juli 2012

In Passion of Science, Baluran


Setelah menempuh delapan jam perjalanan dari Surabaya, sampailah kami di pintu gerbang Taman Nasional Baluran pada setengah tiga sore yang cukup terik di awal bulan Juli. Sesuai petunjuk dari petugas jaga di Pusat Informasi, kami harus menempuh 12 kilometer lagi untuk mencapai Guest House yang berada di Bekol Area. Sebenarnya terdapat dua lokasi Guest House, di Bekol dan Bama, hanya saja kami memilih Bekol dengan pertimbangan lokasi yang berdekatan dengan savana Bekol sebagai objek wisata andalan Baluran.
Perjalanan menuju Bekol terasa begitu lama karena mobil berpenggerak roda belakang kami harus melintasi jalan bergelombang di antara rimbunnya vegetasi hutan musim tropis. Sejenak kami benar-benar melupakan nikmatnya melaju di atas hotmix halus bermarka putih sepanjang 255 kilometer beberapa menit lalu.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menikmati keteduhan vegetasi evergreen. Sementara beberapa dari kami melakukan sesi pemotretan, saya berkesempatan untuk mengambil gambar sejumlah spesies tumbuhan eksotis seperti Gebang (Coripha utan Lamk.), jenis palem besar berbatang tunggal setinggi 15-20 meter. Tumbuhan ini begitu unik karena hanya sekali berbuah di akhir masa hidupnya, tepat sesudah daun-daunnya kering dan berganti dengan karangan bunga. Setelah menghasilkan buah dalam jumlah ribuan, pohon akan mati lalu tumbang dengan sendirinya. Tumbuhan lain yang kami temukan adalah liana berkayu serupa tuba dengan batang berbentuk pipih. Spesies yang oleh penduduk setempat diberi nama Rawetan ini memanjat tumbuhan lain untuk bersaing mendapatkan cahaya matahari.
Dua ratus meter menjelang Guest House, mobil berhenti untuk ketiga kalinya. Senandung lagu berbahasa Bali dari stasiun radio di seberang lautan menjadi backsound pengamatan kami pada dua vegetasi berbeda yang tampak di masing-masing sisi jalan utama. Jika di sebelah kiri kami adalah hutan musim tropis, maka di sisi kanan terhampar luas savana dengan spesies dominan berupa rumput liar dan beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar seperti Pilang (Acacia leucophloea) dan Widoro bukol (Ziziphus rotundifolia).
Nyatanya, tidak salah jika kami memilih tempat menginap di Bekol. Meski berjarak 3 kilometer dari kantin di Resort Bama, setidaknya keberadaan savana seluas 300 hektar dan menara pandang di atas bukit cukup bisa menutupi kekurangan itu. Maka, keesokan harinya kami memutuskan untuk mendaki bukit pagi-pagi demi berburu sunrise dan mengamati aktivitas satwa dari atas menara. Saat berjalan menuju menara, kami bertemu dengan dua wisatawan asal Ceko, Veronica dan Zdenka. Tampaknya mereka sedang menunggu petugas untuk memandu mereka mengeksplorasi kawasan Bekol. Lantas saya pun mengajak mereka turut serta, "Let's get the sun!"
Selanjutnya, dari atas menara pandang kami menikmati sajian panorama padang rumput luas berwarna kecokelatan lengkap dengan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berjalan membentuk barisan ke arah utara. Juga seekor mamalia besar soliter, kerbau liar (Bubalus bubalis) yang bergerak lamban menuju kubangan. Dua spesies tersebut melengkapi daftar menu pertunjukan hewan liar kami setelah hari pertama untuk spesies merak hijau (Pavo muticus), ayam hutan hijau (Gallus varius), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), dan banteng (Bos javanicus). Kecuali merak dan kera ekor panjang, tampaknya semua spesies yang ada memiliki kecenderungan untuk sukar didokumentasikan. Hal itu dikarenakan faktor cahaya, jarak, dan kelincahan objek yang sama sekali tidak berpihak pada jenis kamera saku besar berlensa 25 milimeter.
Cahaya matahari belum sepenuhnya menyinari setiap sudut savana Bekol. Dari menara pandang, kami berenam memutuskan untuk bereksplorasi di salah satu sudut savana yang hanya berjarak puluhan meter dari Guest House. Berbekal sebuah DSLR 550D, teman kami Ady menggelar sesi pemotretan bersama sejumlah model dadakan di antara rerumputan kering dengan latar belakang gunung Baluran yang masih berhias awan di bagian atasnya. Dengan posisi gunung di sebelah barat dan cahaya matahari pagi dari arah timur, saya merasa mendapatkan momen yang tepat untuk mengabadikan lukisan alam itu, tentu saja minus modelnya.

(Bersambung...)

30 Mei 2011

Tenaga Surya



This photo was taken on April 11, 2011 in Wadungasri, East Java, ID, using a Canon EOS 1000D (flickr)

Tempat kerja baru, meja baru, hiasan baru. Sebut saja Bunga, hiasan dasbor mobil itu sering terlihat dijual eceran di persimpangan dengan lampu merah ataupun warung kopi di sekitar persimpangan dengan lampu merah, tempat para tukang ojek, pedagang asongan dan pengguna jasa cuci motor rehat sejenak. Dengan harga tidak lebih dari dua puluh ribu rupiah, konsumen dapat menikmati keuntungan berupa goyangan bolak-balik si Bunga beserta dua helai daunnya dengan bantuan energi cahaya. Ya, tanpa akumulator ataupun baterai!
Karena intensitas cahaya di kantor belum memenuhi syarat untuk terkonversi menjadi energi gerak, si Bunga itu pun hanya bisa diam termenung di atas meja baru. Tempo hari dia sempat bergerak dengan riang, bukan karena cahaya, tapi karena hembusan angin dari kipas besar 220 volt, 50 watt. Boros sekali!

18 Januari 2011

Sumur Berkatrol



This photo was taken on December 27, 2010 in Jatigedong, East Java, ID, using a Canon EOS 1000D (flickr)

Mencuci baju waktu masih SD dulu, mencuci karpet kamar, atau memandikan motor sambil mendengarkan 30 Seconds to Mars dari smartphone, semua pernah dilakukan di sini. Sumur Langgar, telah berdiri sejak tahun delapan puluhan. Dijepret dengan kamera pinjaman, diolah dengan Adobe Photoshop Lightroom 2.

12 Juli 2010

Masuk Sekolah Lagi

Inilah berbagai ekspresi wajah siswa baru SD di hari pertama mereka masuk sekolah. Diambil melalui sudut pandang lensa 58 mm Canon EOS 1000D. Oh ya, karena tergolong mainan baru, harap maklum jika hasil sodrekan masih memanfaatkan hitam-putih sebagai warna dominan. Sisanya, nikmati saja!

Menggeliat. Masih sempat menggeliat dalam prosesi penyematan tanda peserta MOS oleh Ibu Kepala Sekolah.


Menguap. Aktivitas menguap itu wajar, terlebih dalam sebuah apel pagi di hari pertama masuk sekolah.


Oahm. Bagi beberapa anak, menguap itu tidak harus dengan membuka mulut lebar-lebar.

23 Juni 2010

Kenduri

Seperti halnya kenduri-kenduri sebagai bentuk rasa syukur pada umumnya, dan mumpung belum masuk bulan puasa, maka izinkan saya selaku tuan rumah untuk menjamu saudara-saudari sekalian dengan hidangan yang siap santap berikut ini. Silahkan dinikmati, jangan sungkan-sungkan mencela jika ada yang alergi, pun jangan malu untuk memuji jika merasa enjoy.


Jangan percaya bahwa omelet buatan siswa-siswi SMP dalam lomba memasak ini enak, kecuali mencoba dengan lidah sendiri. Sayangnya, sampel sudah habis sejak November tahun lalu.


Pecel ini dijepret dari kawasan Malioboro pada pukul tujuh lewat lima menit 3 Juli 2009 lalu dan masih segar hingga hari ini :)


Tandan dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah "tundun" yang identik terimplementasi sebagai satuan yang lebih besar daripada cengkeh (e-nya seperti pada kata kaleng) atau sisir. Inilah keunikan buah pisang.

31 Oktober 2009

CPU Must Go On


Tanggal:
18/10/2009 16:31
Kamera: Panasonic DMC-TZ3
Acara: Dokumentasi

Indahnya perpaduan antara SIM-X641, Intel E7500 2.93, P5KPL-AM, DDR2 1024, DVD Multi 22, 160 GB HDD, plus double fan casing transparan. Semoga mereka tidak lekas rusak dan senantiasa membawa manfaat bagi Sang Juragan tercinta. Amien...!!

3 November 2008

Mobil Polisi Hari Ini


Tanggal: 02/11/2008 9:43
Kamera: Panasonic DMC-FX10
Acara: Hunting

Dari sekitar 75 kali perjalanan menuju kantor sejak migrasi empat bulan yang lalu, setidaknya telah empat kali polantas di kawasan putar balik depan Royal Plaza Surabaya itu berganti mobil. Jika awalnya armada patwal yang diperbantukan hanya sekelas KIA Sephia, maka terhitung sejak empat hari terakhir para penegak hukum itu cukup berjaya dengan satu unit BMW 740i. Sedan bermesin V8 dengan 5 percepatan ini sukses menggantikan Ford Focus 2.0 buatan Amerika yang beberapa minggu sebelumnya turut bertugas di tempat yang sama.

12 Februari 2008

Bambu


Tanggal:
--/--/2007
Kamera: SANYO S1
Dimensi: 1024 x 768 pixel
Acara: Hunting

Entah kapan dijepret (lupa mengeset tanggal kamera) yang jelas foto bambu dengan latar belakang pagar batako ini pernah menjadi kertas-tembok (=wallpaper) sejumlah kompie di kantor. Ada juga lembaga keagamaan ternama yang sudi menyunting gambar ini sebagai 'begron' presentasi ceramah rutinnya. Bahkan seorang mahasiswa S1 sebuah Universitas Negeri di Surabaya turut andil menjadikan jepretan ini sebagai instrumen skripsi kebanggaannya (hehehehe....!).
Dari segi desain dan layout blog, foto ini memang sengaja tidak diberi frame agar selanjutnya bisa lebih mantab untuk dijadikan kertas-tembok semua orang. File orisinilnya bisa didownload tanpa harus meng-copy-paste URL ke kolom Address (unlike Kalender 2008 or Permak Foto fuih...). Selamat mengunduh...!

21 Oktober 2007

Ketupat


Tanggal: 20/10/2007 7:05
Kamera: PENTAX Optio 33L
Acara: Sarapan

Ketupat merupakan makanan khas Asia Tenggara yang biasa disajikan pada perayaan Lebaran Ketupat (H+7 Lebaran) atau Riyoyo Kupat (Jawa) atau Tellas,n Topa' (Madura). Umumnya makanan berbahan dasar beras ini dihidangkan bersama tahu dan irisan daging dari kulit kambing atau sapi yang dimasak lodeh. Serundeng (abon kelapa) dan kerupuk dapat disertakan sebagai pelengkap sajian. Klik di sini untuk uraian lebih lanjut tentang ketupat (Uenak nyo.....!).

7 Agustus 2007

Loper Koran


Tanggal: 06/08/2007 6:01
Kamera: SANYO S1
Acara: Perjalanan menuju kantor

Dengan berbalut jaket putih untuk melawan udara pagi yang dingin, anak ini mulai beraksi "menjajakan" koran di pertigaan Jl. Margorejo Indah - Jl. Raya Jemursari Surabaya. Pemandangan seperti ini terjadi setiap hari sejak beberapa minggu lalu, tepatnya sejak tahun ajaran baru 2007-2008 dimulai. Bagaimana komentar Anda?

11 Juli 2007

9 Juni 2007

Fotogra-fiz: Sereal Rasa Benang

Foto di atas merupakan post 'fotogra-fiz' perdana hasil jeprat-jepret obyek unik di sekitar kita. Post ini akan terbit berkala setiap ada obyek yang memang pantas untuk dijepret (insya Allah). Semua konten dalam 'fotogra-fiz' merupakan karya orisinil, bukan hasil rekayasa atau copy-paste.
Jepretan ini tertanggal 25 Mei 2007 saat preparing satu bungkus E*****n rasa kacang hijau (kode produksi: 080308TG1XXX). Bagaimana komentar Anda?