Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

2 Februari 2023

Travel Snapshot | Dan Saya Membuat Entry Lagi

Baiklah kawan-kawan, saya tidak pernah posting di sini beberapa tahun terakhir! Apa kabar? Silakan menikmati sedikit gambaran tentang Jogja (tempat saya tinggal sekarang) dalam 27 panel. Berisi 8 gambar hutan, 8 pantai, 3 jalanan, 3 sawah, 2 gunung, dan 3 warung. Bagian dari seri travel snapshot saya sejak 2009.

Gambar-gambar itu diambil saat bumi sedang dalam masa pemulihan dari segala jenis aktivitas menyakitkan oleh manusia pada kurun waktu seratus tahun terakhir. Kondisi yang teramat langka namun epic dengan langit biru yang berbeda, awan tinggi, juga sore hari yang cerah namun terkadang kuning. Beruntung saya berhasil mendokumentasikannya selama satu tahun penuh dari segala penjuru Yogyakarta, meski tidak setiap hari.

Ditangkap dengan sensor kamera smartphone yang tidak lebih besar dari kuku jari kelingking, setiap gambar selanjutnya melewati proses peningkatan kualitas (enhanced) dengan Adobe Lightroom Premium. Sebuah teknologi mutakhir yang baru muncul pada Februari 2019. Oh ya, kecuali gambar tetes-tetes air hujan berlatar mendung gelap di sisi kanan bawah itu, semua gambar diambil mulai 23 Desember 2020 hingga 18 Desember 2021. Adapun untuk tetes-tetes air diambil pada 9 Desember 2019 selepas ashar, dalam sebuah perjalanan senin sore ke arah barat kota.

Been trying to get in touch with my soul, then I found #design #snapshot and #traveling did a great job.

28 April 2019

Jogja Lagi (My Insta Recap)


Jika mereka punya Hollywood, maka kami punya Gamplong Studio Alam. Adalah sebuah film set milik Mooryati Soedibyo yang telah dihibahkan kepada Pemerintah Daerah Sleman untuk selanjutnya dikembangkan menjadi destinasi wisata baru. Sultan Agung The Untold Love Story (2018) adalah film pertama yang lahir dari studio ini. Ada pula Bumi Manusia, dan tentu saja Goyang Jempol-nya Kill the DJ.

Dari Gamplong, mari kita sedikit bergeser ke arah barat. Baik, setelah bosan dengan kebosanan akan trainspotting, kini tiba saatnya untuk kembali dengan sebuah spot unik dari seputaran Kalisoka, Margosari, yang secara spesifik akan tertulis 55652 dalam kode pos. Oh ya, jika saja foto di bawah ini diambil dengan kamera 360 derajat, maka hanya dengan membalikkan badan Anda akan dapat menikmati jalur rel menikung ke arah Wates berlatar perbukitan Menoreh dan jingganya matahari sore. Ah, jika saja!


19 April 2018

Antimainstream


Konon, Jogja punya trayek bus terpanjang di dunia, Jogja - Paris. Model pada gambar di atas hanyalah pemanis. Diambil dari kawasan pantai Depok, Parangtritis (Paris) yang mendadak tenar sejak gank Cinta AADC mampir dan selfie-selfie di sana dua tahun lalu. Dari pasar ikan (TPI) Depok lurus saja ke arah timur menuju gumuk pasir Parangkusumo.

Sebenarnya, dengan bergeser beberapa menit saja kita bisa menemukan spot yang menawarkan sudut pandang antimainstream dari sejumlah destinasi wisata yang sudah umum di seputaran Jogja. Parangtritis misalnya, bergeserlah 2,7 kilometer ke arah timur untuk mendapat view garis pantai nan panjang dari atas bukit Paralayang, Watugupit. Atau bangunan Pulo Cemeti yang epic dengan hanya bergeser beberapa puluh meter dari situs Sumur Gumuling. Citra Scholastika pernah ambil gambar untuk video klipnya di sana, Pasti Bisa.

Lalu, bagaimana dengan kawasan pantai? Baron, pantai yang pas untuk piknik keluarga karena ombak yang tidak seberapa besar, pun menawarkan view hidden spot yang hanya dapat dinikmati dari atas Mercusuar Tanjung Baron. Bergeserlah 400 meter ke arah selatan dengan berbekal 2000 perak untuk naik ke atas bukit dan 10.000 untuk naik ke puncak menara. Oh ya, gambar terakhir adalah situs Ratu Boko. Berjarak 3,3 kilometer ke arah selatan.

Catatan #1: Semua gambar diambil dengan kamera smartphone berlensa 13 MegaPixel bawaan pabrik. Diolah dengan Adobe Lightroom versi mobile dengan sesekali melibatkan Snapseed.

Catatan #2: Jogja, terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.


13 Maret 2018

Jogja dalam Romantisme


Cinderamata hari kemarin, sate jamur dari warung spesialis jamur di jalan Magelang. Sebenarnya, mampir ke sana adalah demi romantisme masa kecil, botok jamur khas Emak. Sayangnya masih belum oke, belum dapat. Tapi, inilah bonusnya! Saya yakin orang-orang di luar sana menyebutnya sebagai Wanderlust.

Soal jamur yang saya ingat, adalah sebentuk hasil 'panen' Mbah Kung di tanggul Brantas selagi mencari rumput untuk makanan pokok si Nganu. Em, saya tidak tau apakah beliau benar-benar pernah menamakannya, seekor kuda cokelat pekat penarik dokar keluarga kami. Berjaya, begitu berjaya. Sebelum tanda-tanda keberhasilan revolusi industri menyentuh setiap sudut pasar kecamatan, mobil angkutan pedesaan.

Gambar satu diambil tepat tiga hari sebelum move-on seratus persen dari Surabaya menuju Jogja. Ya, untuk selanjutnya kami sekeluarga akan menetap di Jogja. Adalah gambar kedua, Sancaka Pagi yang dijepret pada September lalu dengan kamera ponsel. Kedua gambar dimasak melalui dua hingga tiga kali penyaringan.

8 Januari 2014

Jeng-jeng Sekaten


Baiklah, kali ini saya benar-benar harus rehat untuk sementara waktu, setelah memikul tugas ekstra sepanjang dua setengah bulan terakhir. Lagipula, bagi saya naik cetak adalah nikmat yang patut dirayakan dengan suka cita. Jika ditimbang, lima karya mungkin sebanding dengan satu minggu liburan ke luar kota untuk sekedar jalan-jalan melepas penat. Jeng-jeng kata orang Semarang.
Selain (tentu saja) pulang ke rumah mertua, misi liburan kali ini adalah menengok keramaian Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Lor Yogyakarta. Barangkali ada yang menarik di sana, maka turut terlibat sebuah poket bongsor berlensa tanggung 25mm WIDE dengan 12x optical zoom sebagai peranti dokumentasi. Jadi, DSLR dan kamera ponselnya sementara minggir dulu.
Usai berkemas dan mengisi ulang baterai aneka gadget, sebuah pesan bergambar tiket kereta api masuk via group chat. Satu kejutan ringan yang tidak terencana, bahwa seorang teman lama juga berniat melakukan perjalanan ke Yogyakarta sore itu dalam rangka menghadiri sebuah hajatan. Setio namanya, teman satu kelas yang sempat hilang ditelan bumi pada semester-semester akhir kami kuliah. Ah, sulit dipercaya! Kami berdua memiliki tiket untuk kereta dan nomor gerbong yang sama. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya tidaklah jauh dari reuni kecil-kecilan di antara kami. Obrolan seputar keluarga, pekerjaan, kegemaran baru, fotografi, maupun jenis kamera, mengalir begitu saja untuk beberapa jam ke depan. Begitu seterusnya, hingga kami turun dari kereta dan berpisah di Stasiun Tugu.
Kembali ke Pasar Malam Sekaten. Secara etimologi, istilah Sekaten berasal dari rangkaian kata syahadatain atau dua kalimat syahadat. Nama Sekaten diperoleh dari fungsi awal digelarnya pasar malam semacam ini pada zaman wali songo, yaitu untuk menyebarkan agama Islam melalui jalur budaya. Adapun hiburan yang ditampilkan pada saat itu adalah pagelaran wayang kulit dengan tiket masuk berupa ucapan dua kalimat syahadat.
Zaman telah berubah, wayang kulit yang dulunya merupakan hiburan tunggal dalam Pasar Malam Sekaten telah berganti oleh wahana-wahana modern seperti ombak laut, kora-kora, tong setan, komedi putar, rumah hantu, hingga bianglala. Kecuali ombak laut yang turut menambahkan adegan akrobatik melayang di udara untuk para pemutarnya, semua wahana di atas dapat dinikmati pengunjung dengan rata-rata tiket seharga 8.000 rupiah.
Beruntung saya tiba di lokasi selepas gerimis mengguyur Yogyakarta dari sore. Itulah yang saya cari. Bukan beceknya lapangan, tapi lebih pada absennya debu yang identik dengan lapangan tanpa rumput seperti Alun-alun Lor. Waktu pun masih cukup sore untuk memulai eksplorasi setiap sudut pasar malam.
Dari area bianglala, saya bergeser menuju lapak para penjual makanan dan mainan. Biar lebih dapat di human interest-nya, pikir saya. Kembang gula dan kapal minyak, dua macam cinderamata itu saya pilih sebagai oleh-oleh untuk dua orang keponakan yang sedari tadi mengikuti pergerakan saya ke sana kemari. Karena itu pula eksplorasi kali ini tidak bisa optimal, terikat jam malam untuk segera mengembalikan anak-anak itu kepada empunya. Jadi, ini saja yang dapat saya rekam melalui kamera poket bermode Pemandangan Malam, dengan editing sewajarnya.


11 Mei 2013

Bangkalan

Dari tujuan awal perjalanan berupa Abon Tongkol dalam kemasan, saya berusaha menambahkan poin lain dalam itinerari jalan-jalan kali ini. Bukankah sangat disayangkan apabila perpaduan cuaca cerah dan mood bagus hanya akan menghasilkan beberapa bungkus buah tangan? Lagipula, saya memang perlu jalan-jalan keluar kota lagi dengan tas di punggung, seperti para backpacker melakukannya. Oke, sekarang Mercusuar Sembilangan sudah masuk dalam daftar, setelah Jembatan Suramadu dan Abon Tongkol.
Berbekal tas punggung dan ponsel pintar hadiah ulang tahun Nyonya Besar, perjalanan dimulai dari kawasan Surabaya Selatan menuju kota Bangkalan via jalur nontol. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah lima puluh dua menit untuk jarak tempuh tiga puluh delapan kilometer. Ada alasan ketika saya lebih percaya navigasi ponsel daripada peta kertas yang baru bisa terbaca setelah dipadu dengan kompas. Sangat melelahkan jika pengalaman di Solo tahun lalu terulang lagi, enam belas menit untuk jarak 1,5 kilometer.
Suramadu, beberapa menit kemudian sampailah saya di sana. Jembatan terpanjang di Indonesia itu telah melintasi selat Madura sejak 2009. Ada sensasi tersendiri saat menyeberangi jembatan seharga 4,5 triliun itu. Perasaan bangga sebagai warga Jawa Timur sekaligus takjub, campur aduk jadi satu. Sejenak saya menyempatkan berhenti di bentang tengah untuk ambil gambar, meski sebenarnya aktivitas semacam itu sangat ilegal.
Perjalanan berlanjut menuju pusat kota Bangkalan. Indikator sinyal HSDPA maupun 3G di ponsel terlihat naik turun. Syukurlah, beberapa spot seperti Alun-alun, Masjid Agung Bangkalan dan lokasi Abon Tongkol masih terakses foursquare. Sementara itu mendung terlihat berarak di atas kota, siap turun sebagai air hujan di musim pancaroba ini. Semoga cuaca cerah tetap mendukung aktivitas snapshot dalam trip tanpa kamera digital kali ini.
Baiklah, saya mengaku! Sebenarnya, Abon Tongkol adalah tujuan utama yang lambat laun menjadi sekunder karena faktor jarak dan daya tahan tubuh. Jadi, setelah check in di Masjid Agung, mencari rute si Abon, sampai di lokasi, barang dipilih, menebusnya dengan beberapa lembar puluhan ribu dan memasukkannya ke dalam backpack, satu lagi sesi perjalanan yang harus dituntaskan sebelum petang, Mercusuar Sembilangan. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah empat belas menit untuk jarak delapan kilometer dari pusat kota.


Asingnya medan rupanya belum berhasil membuat laju motor saya melambat. Sesekali, kebingungan akan opsi ruas jalan mampu dipecahkan oleh mesin pemandu lokasi yang kala itu merangkap juga sebagai penunjuk waktu, alat komunikasi maupun kamera. Keterbatasan navigasi ponsel baru terasa ketika lokasi yang ditampilkan hanya berupa tempat-tempat umum seperti balai desa atau sekolah, tidak untuk tempat-tempat terpencil. Itulah alasan yang melatarbelakangi pertanyaan saya seputar lokasi Mercusuar Sembilangan kepada seorang penduduk setempat. "Ikuti saja jalan item, Mas!" jawab seorang bapak di depan teras rumahnya. Memang benar, setelah satu kilometer mengikuti jalanan sempit beraspal hitam dari ujung desa, sampailah saya di sebuah persimpangan kecil yang mengarah ke sebuah objek tinggi di tepi pantai. Sein kanan menuju Mercusuar Sembilangan.
Hanya dengan empat ribu rupiah untuk parkir motor dan bea masuk lokasi, saya telah mengantongi izin akses ke seluruh bagian mercusuar. Bangunan yang sepenuhnya terbuat dari lempeng-lempeng logam itu didirikan pada pemerintahan Belanda tahun 1879. Fungsi dasar bangunan setinggi enam belas tingkat itu adalah sebagai pemandu kapal-kapal Belanda yang akan bersandar di pelabuhan Tanjung Perak.
Berbekal semangat dan kamera ponsel alakadarnya, saya mencoba naik dari satu lantai ke lantai berikutnya. Di masing-masing lantai, saya mendapatkan sudut pandang berbeda untuk setiap benda di permukaan tanah yang biasa-biasa saja dalam sudut pandang mata manusia, bahkan membosankan. Hijaunya vegetasi bakau, detail pepohonan di tepi jalan, maupun warna jingga atap rumah-rumah penduduk dapat terekam sempurna dalam format digital berkat intensitas cahaya matahari yang benar-benar tinggi siang itu. Inilah yang saya suka dari musim kemarau dan paket penyertanya, langit biru, awan tinggi, matahari bersinar terang. Lalu, apa lagi yang kurang?

15 Agustus 2012

Bab Dua


Matahari belum terlalu tinggi saat kami menuju Pos Jaga Bekol di sebelah utara Guest House. Tujuan kami satu, mencari informasi seputar pendampingan untuk paket tracking beberapa jam mendatang. Dari dialog antara teman kami Ady dan Bapak Penjaga Pos yang hanya berdurasi kurang dari tiga menit, kami diharuskan bergeser (sekali lagi) ke Pos Jaga Resort Bama yang berjarak tiga setengah kilometer untuk mendapatkan guide. Baiklah, lagipula cepat atau lambat kami memang harus ke Bama untuk melakukan ritual sarapan siang.
Seperti yang seharusnya terjadi, hari masih relatif pagi untuk berjumpa kembali dengan aspal bergelombang sesuai deskripsi tentang jalanan rusak tempo hari. Dari atas kendaraan, kami sempat menikmati atraksi rusa menyeberang jalan dan kawanan kera abu-abu yang berteduh di bawah rimbunnya pepohonan. Jauh di depan, tampak dua orang turis yang telah kami temui sebelumnya, Veronica dan Zdenka, berjalan ke arah pantai. Mereka telah berjalan kaki setidaknya dua kilometeran dari Bekol, tanpa seorang pemandu. Oke, sepertinya mobil kami masih muat untuk ditambah dua penumpang lagi.
Jika hari pertama fokus eksplorasi adalah savana, maka hari berikutnya kami berupaya menepati itinenari untuk mengupas sisi lain Baluran di Resort Bama, pantai. Tepat sekali jika penjaga kantin merekomendasikan Dimas, seorang ranger yang waktu itu 'tersedia' sebagai pemandu tracking. "Ber-tracking-lah dulu saudara sembari menunggu kami menanak nasi..." atau semacam itulah pesan yang sempat saya tangkap dari dua juru masak kantin. Ya, kami pun sepakat untuk melakukan tracking jalur pendek berupa susur pantai, melintas jembatan mangrove dan melibas rute bird watching.
Kesan seputar pantai Bama? Lumayan untuk pasir putihnya, menggugah selera untuk kerimbunan hutan bakaunya. Bagaimana dengan jembatan mangrove? Tunggu dulu! Berdasarkan literatur bergambar dari blog beberapa minggu sebelumnya, saya dan Ady merasa tampilan jembatan mangrove kali ini sama sekali jauh dari yang diharapkan, lebih eksotis. Tampaknya, perbaikan infrastruktur Taman Nasional telah menyentuh setiap ruas jembatan maupun dermaga yang dulunya sempat terabaikan. Lalu bagaimana dengan rute bird watching? Benar-benar rimbun, banyak nyamuk, tetapi menyegarkan. Cocok sebagai pengobat rindu kami selaku warga metropolis pada hutan rimba.
Akhirnya, kami harus cepat kembali untuk menikmati sarapan di kantin Resort Bama bersama nasi goreng dan sekaleng kopi cair. Juga beberapa menit ke depan bersama sabun mandi dan handuk di Guest House Bekol. Tak lupa packing untuk perjalanan berikutnya, eksplorasi sore di pantai berpasir putih lain yang berjarak 162 kilometer ke arah barat daya.
Oh ya, video di atas dibuat dengan sejumlah alat dan bahan yang relatif alakadarnya. Masih bersama poket bongsor berlensa 25 milimeter bawaan pabrik, Pinnacle Studio 12 edisi Ultimate, PC berotak dua tanpa kartu grafis, dan gambar mentah yang tidak cukup jernih berdimensi 1280x720 piksel. File jadi generasi 1.0 sempat dianggap melanggar paten karena memanfaatkan musik latar original dari Paloma Faith bertitel Technicolour.


7 Juli 2012

In Passion of Science, Baluran


Setelah menempuh delapan jam perjalanan dari Surabaya, sampailah kami di pintu gerbang Taman Nasional Baluran pada setengah tiga sore yang cukup terik di awal bulan Juli. Sesuai petunjuk dari petugas jaga di Pusat Informasi, kami harus menempuh 12 kilometer lagi untuk mencapai Guest House yang berada di Bekol Area. Sebenarnya terdapat dua lokasi Guest House, di Bekol dan Bama, hanya saja kami memilih Bekol dengan pertimbangan lokasi yang berdekatan dengan savana Bekol sebagai objek wisata andalan Baluran.
Perjalanan menuju Bekol terasa begitu lama karena mobil berpenggerak roda belakang kami harus melintasi jalan bergelombang di antara rimbunnya vegetasi hutan musim tropis. Sejenak kami benar-benar melupakan nikmatnya melaju di atas hotmix halus bermarka putih sepanjang 255 kilometer beberapa menit lalu.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menikmati keteduhan vegetasi evergreen. Sementara beberapa dari kami melakukan sesi pemotretan, saya berkesempatan untuk mengambil gambar sejumlah spesies tumbuhan eksotis seperti Gebang (Coripha utan Lamk.), jenis palem besar berbatang tunggal setinggi 15-20 meter. Tumbuhan ini begitu unik karena hanya sekali berbuah di akhir masa hidupnya, tepat sesudah daun-daunnya kering dan berganti dengan karangan bunga. Setelah menghasilkan buah dalam jumlah ribuan, pohon akan mati lalu tumbang dengan sendirinya. Tumbuhan lain yang kami temukan adalah liana berkayu serupa tuba dengan batang berbentuk pipih. Spesies yang oleh penduduk setempat diberi nama Rawetan ini memanjat tumbuhan lain untuk bersaing mendapatkan cahaya matahari.
Dua ratus meter menjelang Guest House, mobil berhenti untuk ketiga kalinya. Senandung lagu berbahasa Bali dari stasiun radio di seberang lautan menjadi backsound pengamatan kami pada dua vegetasi berbeda yang tampak di masing-masing sisi jalan utama. Jika di sebelah kiri kami adalah hutan musim tropis, maka di sisi kanan terhampar luas savana dengan spesies dominan berupa rumput liar dan beberapa jenis pohon yang tumbuh menyebar seperti Pilang (Acacia leucophloea) dan Widoro bukol (Ziziphus rotundifolia).
Nyatanya, tidak salah jika kami memilih tempat menginap di Bekol. Meski berjarak 3 kilometer dari kantin di Resort Bama, setidaknya keberadaan savana seluas 300 hektar dan menara pandang di atas bukit cukup bisa menutupi kekurangan itu. Maka, keesokan harinya kami memutuskan untuk mendaki bukit pagi-pagi demi berburu sunrise dan mengamati aktivitas satwa dari atas menara. Saat berjalan menuju menara, kami bertemu dengan dua wisatawan asal Ceko, Veronica dan Zdenka. Tampaknya mereka sedang menunggu petugas untuk memandu mereka mengeksplorasi kawasan Bekol. Lantas saya pun mengajak mereka turut serta, "Let's get the sun!"
Selanjutnya, dari atas menara pandang kami menikmati sajian panorama padang rumput luas berwarna kecokelatan lengkap dengan kawanan rusa (Cervus timorensis) yang berjalan membentuk barisan ke arah utara. Juga seekor mamalia besar soliter, kerbau liar (Bubalus bubalis) yang bergerak lamban menuju kubangan. Dua spesies tersebut melengkapi daftar menu pertunjukan hewan liar kami setelah hari pertama untuk spesies merak hijau (Pavo muticus), ayam hutan hijau (Gallus varius), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), dan banteng (Bos javanicus). Kecuali merak dan kera ekor panjang, tampaknya semua spesies yang ada memiliki kecenderungan untuk sukar didokumentasikan. Hal itu dikarenakan faktor cahaya, jarak, dan kelincahan objek yang sama sekali tidak berpihak pada jenis kamera saku besar berlensa 25 milimeter.
Cahaya matahari belum sepenuhnya menyinari setiap sudut savana Bekol. Dari menara pandang, kami berenam memutuskan untuk bereksplorasi di salah satu sudut savana yang hanya berjarak puluhan meter dari Guest House. Berbekal sebuah DSLR 550D, teman kami Ady menggelar sesi pemotretan bersama sejumlah model dadakan di antara rerumputan kering dengan latar belakang gunung Baluran yang masih berhias awan di bagian atasnya. Dengan posisi gunung di sebelah barat dan cahaya matahari pagi dari arah timur, saya merasa mendapatkan momen yang tepat untuk mengabadikan lukisan alam itu, tentu saja minus modelnya.

(Bersambung...)

12 April 2012

The Spirit of Java


Syukurlah, musim kemarau telah tiba. Saatnya menikmati paket birunya langit yang terkadang berpadu dengan warna kelabu awan Nimbostratus dan putihnya Cumulus. Jika beruntung, merahnya mega dapat dijumpai pada sore hari. April, secara teori merupakan awal kemarau untuk enam bulan ke depan. Cuaca cerah dan langit biru? Saatnya backpacking!
Tujuan jalan-jalan ke luar kota kali ini adalah kota Surakarta atau lebih dikenal sebagai Solo dalam konteks informal. Adapun spot kunjungan terbagi menjadi delapan tempat yaitu Citywalk, Taman Sriwedari, Keraton Surakarta, Masjid Agung Surakarta, Pasar Klewer, Bank Indonesia, Pasar Gede, dan Stasiun Purwosari. Masih bersama istri tercinta dan poket bongsor Panasonic DMC-TZ10 dengan fitur GPS-nya. Gambar-gambar ada di kampung sebelah.
Citywalk merupakan area khusus pejalan kaki dan pengendara sepeda yang terbentang sejauh enam sampai tujuh kilometer di sepanjang Jalan Slamet Riyadi. Karena masih cukup pagi, Nyonya Besar memutuskan untuk membongkar ransum di tepian jalur bebas kendaraan bermotor itu dan melakukan ritual sarapan pagi. Inilah destinasi pertama kami di sebuah pagi yang cerah.
Beranjak dari Citywalk di depan Bank Mandiri Surakarta, kami meluncur ke arah kota melewati Taman Sriwedari, taman hiburan rakyat yang berada di kecamatan Laweyan. Taman yang dibangun pada pemerintahan Paku Buwono X itu merupakan pusat hiburan seni dan budaya masyarakat Solo yang buka pada malam hari. Meski begitu, beberapa stand hiburan seperti bom-bom car dan sejumlah kios telah buka pada siang hari.
Berikutnya, kami menuju Keraton Kasunanan Surakarta yang didirikan pada tahun 1744 oleh Sunan Paku Buwono II. Nyatanya, keraton ini merupakan contoh arsitektur istana Jawa tradisional terbaik. Untuk memasuki kompleks keraton, setiap pengunjung diharuskan membayar tiket seharga sepuluh ribu rupiah dengan akses menuju museum dan sebagian kompleks keraton. Waktu kunjungan kami satu jam lebih sebelas menit.
Hampir masuk waktu dhuhur, karena itu perjalanan selanjutnya menuju masjid terdekat, dalam hal ini tentu saja Masjid Agung Surakarta. Di bagian depan masjid terdapat sebuah gerbang besar menghadap ke arah timur dengan pintu masuk menuju bangunan utama Masjid Agung Surakarta. Jika termasuk bagian dari pagar keliling masjid, maka gerbang kuno ini bisa dipastikan berdiri pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwono VIII tahun 1858. Masjid Agung Surakarta sendiri dibangun pada tahun 1763 hingga 1768 oleh Sunan Paku Buwono III.
Selepas dhuhur di Masjid Agung, saatnya menunaikan ritual makan siang di sekitar Alun-alun Lor dan dilanjut berburu cinderamata ke Pasar Klewer. Selain sebagai pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia, pasar tradisional ini juga menawarkan aneka produk konveksi nonbatik dengan corak modern. Membeli keduanya? Tidak! Hanya cinderamata ringan berupa empat bongkah Intip Solo seharga enam ribu per item ditambah empat bungkus kerupuk tahu dengan harga lima ribu tiap plastiknya.
Tujuan berikutnya adalah Pasar Gede. Rupanya, perjalanan dengan bantuan peta dinding tanpa campur tangan kompas sangatlah sukar dilakukan saat matahari berada di atas kepala. Dibutuhkan waktu berkendara 16 menit untuk meluncur dari Pasar Klewer menuju Pasar Gede yang hanya berjarak 1,5 kilometer. Di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah bangunan tua yang masih difungsikan sebagaimana mestinya, Bank Indonesia. Bangunan dengan gaya neoklasik ini pernah menjadi saksi bisu penculikan Perdana Menteri Syahrir pada 26 Juni 1946 oleh sejumlah pemuda yang tidak puas atas diplomasi antara pemerintahan Kabinet Syahrir II dengan Belanda. Saat tersesat itulah gambar gedung eks De Javasche Bank ketiga berhasil dijepret, setelah dua gambar sebelumnya dari Jogja dan Malang.
Dua puluh enam menit selepas jam dua, sampailah kami di Pasar Gede yang pada mulanya merupakan destinasi perjalanan di malam hari. Kombinasi antara langit gelap dengan objek gedung maupun jam antik menjanjikan suasana eksotis untuk dijepret bersama pendaran cahaya lampu. Sayang sekali, kami sudah terlalu capek untuk menunggu hingga malam.
Sebelum pulang, ada baiknya istirahat sejenak di warung lesehan sebelah barat Stasiun Purwosari. Tepat sekali puluhan PKL di sana memilih spot untuk berjualan, karena di tempat itu banyak berkumpul keluarga beserta anak-anak yang menghabiskan waktu sore dengan mengamati lalu-lalang kereta api. Sejumlah fotografer dan pecinta kereta api juga tampak berburu lokomotif dengan berbagai jenis kamera.


21 Maret 2012

Trip to Malang


Menurut Google Map, perjalanan yang dimulai dari rumah sang Juragan di seputaran Jalan Banyu Urip Surabaya menuju kota Malang akan membutuhkan waktu berkendara dengan roda empat sekitar 1 jam 32 menit sejauh 93,4 kilometer via jalan tol maupun nontol. Adapun jika perjalanan hanya dilakukan dengan berjalan kaki melalui jalur-jalur sempit yang terkadang berada di atas selokan akan menyita waktu selama 18 jam 45 menit dengan jarak tempuh 87,9 kilometer. Berdasar pada akal sehat, pilihan jatuh pada opsi berkendara dengan roda dua yang cukup tenar akan keiiritan konsumsi bahan bakarnya. Cukup dengan 24.500 perak untuk harga premium bersubsidi, dapat diperoleh paket perjalanan pulang pergi, putar-putar kota selama 3 setengah jam, dan dua kali 3 kilometer menjauhi rute utama karena rambu yang menyesatkan.
Kembali ke Google Map. Nyatanya, sukar sekali menggunakan peta di atas platform Java itu tanpa melibatkan campur tangan kompas maupun tanya jawab seputar arah dengan warga setempat. Nah, bagian terakhir itulah yang rupanya lebih bisa diandalkan, gratis namun tingkat keefektifannya jauh melebihi kekuatan gadget canggih macam apapun. Kesimpulan sementara, "Biarlah manusia berinteraksi dengan manusia lain, bukan pada mesin."
Berikutnya, oleh-oleh khas backpacker dari sejumlah tujuan wisata bisa dinikmati bersama wafer maupun kopi hangat dari dapur. Hanya berupa gambar dan deskripsi singkat, tidak lebih dari itu. Sisanya, biarkan foto yang berbicara.

[1] Pohon Raksasa. Pohon besar di Jalan Jaksa Agung Suprapto Malang ini begitu unik bagi saya selaku warga metropolis. Belum pernah ada pohon setinggi 60-an meter semacam ini di jalur dalam kota Surabaya yang padat penduduk dengan mobilitas tinggi dan rentang cuaca ekstrim disertai angin kencang. Menurut pengetahuan saya, inilah Tamarindus indica raksasa keempat di sepanjang jalan itu.
[2] Gereja Paroki. Meluncur dari Jalan Jenderal Basuki Rahmat ke arah Alun-alun Kota Malang, di pertigaan Kayutangan pasang sein kanan dan Anda akan menjumpai gereja Katholik bergaya Gothik ini di sebelah kiri jalan. Adapun arsitektur Gothik sendiri merupakan gaya arsitektur yang berasal dari Perancis abad XII, berevolusi dari arsitektur Romanesque dan diteruskan oleh arsitektur Renaissance.
[3] Masjid Agung. Berlokasi tepat di sebelah barat Alun-alun Merdeka, Masjid yang dibangun dalam dua tahap pada 1890 hingga 1903 ini menganut dua gaya arsitektur, Jawa dan Arab. Gaya arsitektur Jawa terlihat dari atap bangunan utama masjid yang berbentuk tajug tumpang dua, sedangkan gaya arsitektur Arab terlihat dari keberadaan kubah dan menara, serta konstruksi lengkung di pintu maupun jendela masjid.
[4] Tangga Tempat Wudhu. Seperti halnya Masjid Agung Surabaya, tempat wudhu Masjid Agung Malang juga terletak di tingkat dasar, satu lantai di bawah lantai utama masjid. Adapun sumber air untuk keperluan bersuci diperoleh dari sumur artesis yang dibangun pada tahun 2010.
[5] Pintu Samping. Di sisi samping bangunan utama Masjid Agung, terdapat deretan pintu kayu berkisi banyak dengan ukuran ekstra jumbo. Bentuk daun pintu semacam ini mengingatkan saya pada rumah kuno Mbah Buyut di desa yang kental akan perpaduan cita rasa Jawa dan Eropa.
[6] Tajug. Perbedaan antara atap joglo dan tajug dalam arsitektur Jawa terletak pada keberadaan bubungan di bagian puncaknya. Atap bangunan utama Masjid Agung Malang dengan puncak tanpa bubungan ini berjenis tajug yang bentuk aslinya masih dipertahankan sejak awal pembangunan.
[7] Bakso Apa. Bakso Kuto merupakan perpaduan cita rasa antara Bakso Solo dan Bakso Malang, sedangkan bakso yang disertai mie kuning dengan nama belakang Kuto ini sama sekali tidak mengandung fenotipe Solo. Belum lagi harganya yang melebihi budget normal bagi pembeli dari luar daerah, 33.000 untuk dua porsi bakso plus satu lontong dan dua es degan. Dua bentuk kecurangan ini dijepret selepas Dhuhur dari kawasan Alun-alun Kota Malang.
[8] Burung Dara. Demi memperoleh kesan berada di Eropa, Nyonya Besar membeli sekantung plastik jagung mentah untuk mengundang puluhan burung dara di pusat Alun-alun Kota agar menyerbu ke arahnya. Nyatanya, burung-burung itu masih terlalu sungkan untuk berbaur dengan para pengunjung, hanya empat ekor yang berani mendekat. Baiklah, ini bukan Eropa!
[9] Bank Indonesia Malang. Tidak seperti di Surabaya maupun Yogyakarta yang telah menjadi cagar budaya, gedung eks De Javasche Bank Malang yang dibangun pada 1915 ini masih berfungsi selayaknya bank pada umumnya. Berlokasi di sebelah utara Alun-alun dengan bangunan menghadap ke arah selatan.

17 Februari 2012

Cerita Kopi


Backpacker yang menyenangkan bagi saya pribadi berarti jalan-jalan yang dilakukan pada musim liburan di bulan Juni dan Juli, saat hari cerah dan awan tinggi lebih mendominasi langit. Dengan begitu, kesempatan untuk memperoleh bukti otentik berupa foto yang layak pajang dan pantas dijual jauh lebih besar. Saya rasa, belum ada aktivitas melelahkan di luar ruangan yang semenyenangkan backpacker.
Oh, tentu saja! Semua aktivitas itu ada efek sampingnya. Soal memotret tempat dan kegiatan manusia di ruang terbuka, boleh jadi hal-hal kecil dan sedikit remeh ikut terdokumentasikan bersama ratusan foto aneka warna. Contoh konkretnya banyak, bisa jadi hobi lain yang kita lakukan saat jalan-jalan. Kopi misalnya.
Selanjutnya, perkenankan saya berceloteh seputar gambar kopi dari berbagai penjuru mata angin beserta rasa, lokasi dan sedikit cara mendapatkannya. Inilah yang saya maksud.


[1] Kopi Bintang Tiga. Tidak cukup enak dibanding kopi warkop khas Gresik seharga seribu tiga ratusan. Disruput pada suatu pagi di sebuah hotel berbintang tiga, Denpasar, Bali (30 Juni 2010).
[2] Kopi Bromo. Di ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, kopi panas akan terasa dingin dan tidak dianjurkan untuk disruput karena berbahaya bagi bibir esok harinya. Itulah mengapa kopi kaleng adalah pilihan yang dirasa paling tepat. Puncak Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (8 Agustus 2010).
[3] Kopi Gresik. Dari teksturnya jelas berbeda, kopi biasa plus biji jagung yang ditumbuk kurang sempurna. Selanjutnya, menikmati kopi pagi dengan sedikit kunyahan adalah wajar. Gresik, Jawa Timur (20 Maret 2008).
[4] Kopi Joss. Joss sendiri berasal dari bunyi bara api yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air, kopi dan gula. Raya Gajah Mada, Sidoarjo Kota (1 April 2008).
[5] Kopi Kost. Alasan utama pemilihan kopi kaleng adalah sisi kepraktisannya. Lebih cepat saji, tanpa harus membayar biaya listrik tambahan untuk merebus air. Ketintang pada suatu masa, Surabaya (20 April 2010).
[6] Kopi Penginapan. Lumayan untuk sebuah paket sarapan di sebuah penginapan, bersama para dewan guru dan siswa. Jatim Park, Malang (21 Juni 2009).
[7] Kopi Sosrowijayan. Menyusul nasi kucing yang terlebih dahulu masuk perut di sebuah pagi cerah dari kawasan Malioboro. Angkringan depan Marina Palace Hotel, Sosrowijayan, Jogja (2 Juli 2009).
[8] Kopi Sukawati. Kopi saset panas dengan tambahan sekian PPM polipropilen yang terlarut secara otomatis dari bagian dalam gelas plastiknya. Pasar Seni Sukawati, Gianyar, Bali (30 Juni 2010).
[9] Kopi Wendit. Kopi hitam dari warkop Pak Tarip ini mengandung sejumlah partikel kasar yang kemungkinan bukan kopi. Taman Wisata Air Wendit, Pakis, Malang (22 Juni 2009).

3 Juli 2011

Bulan Madu


Setelah sekian lama menjadi konsep dan obrolan warung kopi, akhirnya jobdes itu tercapai juga, menikah. Berikutnya, jobdes lanjutan setelah itu begitu kompleks dan beragam, termasuk misi sampingan menaklukkan wilayah Ngayogyokarto Hadiningrat bersama istri dan kamera baru berfitur GPS. Kalau sampeyan sedang bersantai, tidak ada larangan untuk langsung meluncur ke galeri pusat di kampung sebelah. Monggo!


Motor Pinjaman. Inilah mode transportasi kami di hari kedua bulan madu. Lebih canggih daripada jalan kaki ataupun naik Putra Amarta, bus mini jurusan Paris-Jogja.
Stasiun Sore. Di pusat reservasi, kami kehabisan tiket kereta api untuk tiga hari yang akan datang. Daripada kecewa, ada baiknya jalan-jalan sebentar di area sebelah barat Stasiun Tugu.
Sayidan. Bila kau datang dari selatan langsung saja menuju Gondomanan, belok kanan sebelum perempatan teman-teman riang menunggu di Sayidan (Shaggy Dog).
Penunjuk Arah. Selain kata 'kiri Mas', 'kanan Mas', dan 'lurus Mas' dari sang Nyonya yang asli Jogja, papan penunjuk seperti inilah yang cukup membantu sang Juragan selama menjelajah Ngayogyokarto Hadiningrat.
Lampu Antik. Dijepret pagi-pagi dari sudut timur Alun-alun Lor Jogja bersama sang Nyonya, motor pinjaman, kamera baru, dan alunan merdu Laksamana Raja di Laut dari ponsel.
Enam Empat Lima. Entah, apakah di hari-hari biasa mereka masih sempat jalan-jalan pagi berkelompok selain berangkat ke sekolah dengan mengenakan seragam.

4 Juli 2010

Bali, Tidak Hanya Pantai


Yang mau liburan atau baru saja pulang dari Bali, monggo mampir sejenak sekaligus cuci mata di sini. Santai saja, silahkan dibaca semua cerita yang ada. Kalau dirasa cukup repot, klik saja serakan foto di bawah ini untuk memperbesar gambar. Atau kalau sampeyan sedang bersantai, tidak ada larangan untuk langsung meluncur ke galeri pusat di kampung sebelah. Oh ya, semua gambar yang tersaji sebenarnya hanya untuk membuktikan kalau Bali itu tidak sekedar berbentuk pantai seperti yang tercetak di brosur-brosur ataupun surat kabar. Selamat menikmati.


Tanjung Benoa. Objek wisata kedua di Bali adalah Tanjung Benoa. Yang pertama? Tentu saja shelter ATM.
Menuju Pulau Penyu. Dibutuhkan sekitar dua puluh menit perjalanan air untuk sekedar mengobati rasa penasaran setelah gagal mengunjungi pusat konservasi penyu Alas Purwo enam tahun lalu.
Penyu Lekang. Dikenal juga sebagai penyu abu-abu atau Lepidochelys olivacea, jenis kura-kura laut yang tergolong spesies terancam punah.
Arca, Kamboja dan Langit Biru. Komposisi yang pas antara sudut pengambilan, objek, kecerahan warna, dan instensitas cahaya. Siap-siap jadi wallpaper :)
Dream Land. Bendera merah itu artinya meskipun bernama Dream Land, pengunjung tetap saja dilarang berenang.
Through The Cave. Siluet turis domestik ini dijepret pada pukul 15:15 waktu kamera poket Indonesia Barat.
Ombak. Inilah yang menarik dari Dream Land, pasir putih dan buih ombak yang sama sekali tidak mengandung deterjen.
Setelan Dewasa. Kata pemandu kami, Bli Nyoman, baju-baju seperti ini menggunakan zat pewarna yang bersahabat, artinya mudah melekat pada kain saat dicuci bersama baju lainnya.
Pedagang Sukawati. Ketika ditanya sedang cari apa, maka jawabnya begitu singkat, cuma motret :)
Kopi Bli Nyoman. Kopi saset panas dengan tambahan sekian PPM polipropilen yang terlarut secara otomatis dari bagian dalam gelas plastiknya.
Danau Beratan, Bedugul. Tantangan dari ekspedisi ini adalah waktu berkunjung yang hanya setengah kali dari waktu yang dibutuhkan untuk mengitari danau.
Pura di Tepi Danau. Foto ini kira-kira sama dengan gambar yang tertera pada selembar uang kertas lima puluh ribu edisi tahun 2005.

10 Juli 2009

Yogya, I'm Coming


Setelah sekian lama menjadi wacana dan obrolan warung kopi, akhirnya jobdes itu tercapai juga; Yogyakarta, backpacker, liburan, Malioboro, hunting, refreshing, cinderamata, semua jadi satu. Efeknya, display name kompie di kantor pun harus disesuaikan menjadi, "Yogya, I'm Coming...!!"
Dari sekitar 47 jam berada di Kota Gudeg, turut dibawa pulang; dua buah dompet kulit, empat kotak Bakpia Pathok, sebuah topi kain, sepasang sendal jepit, sebuah jumper, satu stel batik, dan sejumlah gantungan kunci. Selebihnya, beberapa sobekan tiket perjalanan darat dan tanda masuk obyek wisata.
Di sisi lain, cuaca cerah, awan tinggi dan langit biru rupanya cukup mendukung aktivitas hunting di luar ruangan. Bersama Panasonic DMC-TZ3 dengan memori dua giga-nya sukses diperoleh 395 buah gambar digital beraneka warna. 109 diantaranya layak dialbumkan dengan 12 buah gambar pilihan. Klik ilustrasi berikut untuk memperbesar gambar atau langsung kunjungi galeri fotonya.


Pangkalan Becak. Pangkalan becak di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Tampak di seberang jalan adalah kantor pos dan gedung BNI Yogyakarta.
Dari Atas Borobudur. Jalan masuk menuju areal Candi Borobudur. Foreground adalah sebuah arca tanpa stupa penutup.
Prambanan Sore. Matahari sore tampak dari celah-celah siluet Candi Prambanan.
Tugu Yogya. Tugu Yogya dipotret pada 23:32. Rasanya, sukar sekali mengambil gambar monumen bersejarah itu tanpa 'melibatkan' para pengunjung dan fotografer lain.
Yogya Pagi Hari. Foto ini diambil pukul 06:21. Kombinasi yang cukup sempurna antara tiang PJU antik, tempat parkir, backlight dan kamera digital mahal :D.
Lokomotif. Sebuah lokomotif melintas di jalur pedestrian ujung Jalan Malioboro. Loko ini meninggalkan Stasiun Tugu untuk kembali lagi di jalur yang berbeda.
Nasi Pecel. Meskipun telah berada di jantung kota Yogyakarta tapi kami belum juga berhasil menemukan warung gudeg yang buka sepagi itu. Sayang sekali.
Sepanjang Malioboro. Sebuah andong tampak diparkir di ruas Jalan Malioboro. Di belakangnya, seorang petugas kebersihan menyemprotkan cairan pembersih untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran dan bau tak sedap yang dihasilkan si Penarik Andong.
Trans Jogja. "Para penumpang yang terhormat, kita segera sampai di halte Senopati 1. Bagi yang akan turun, cek barang bawaan Anda. Jangan sampai ada yang tertinggal."
Gedung Masjid BI. Awalnya kami tidak mengira kalau gedung ini adalah sebuah masjid, tapi setelah diyakinkan seorang tukang becak maka kami pun percaya.
Anno 1914. Jangan salah, ini adalah ornamen jendela kaca Masjid Bank Indonesia Yogyakarta. Begitu antik.
Bangku Trans Jogja. Tidak seperti saat kami memasuki Kota Gudeg dua hari sebelumnya, kali ini Trans Jogja yang kami tumpangi terasa lebih besar dan longgar :).

20 Juni 2009

Fotografi, Kereta Api dan Desain Grafis


Semua berawal dari acara sesi pemotretan buku kenangan sejumlah siswa SMP minggu kemarin. Dari berbagai langkah kerja seperti koordinasi dengan birokrasi sekolah, konfirmasi dengan para petugas PT. KAI DAOP VIII, survey lokasi, mencoba berbaur dengan para model dadakan, mengantar mereka ke stasiun, jepret sana-jepret sini, naik kereta komuter jurusan Sidoarjo - Surabaya PP, sampai mendesain buku kenangan sehingga bernilai seni dan layak jual, tiga hal yang cukup dapat dinikmati untuk sekadar melapas penat dari rutinitas kantor sehari-hari; fotografi, kereta api dan desain grafis.
Jika koleksi jepretan pribadi terakhir sempat terpublikasi di blog ini via kalender 2009 pada awal Januari lalu, maka entah kenapa hingga awal bulan keenam ini mood untuk jeprat-jepret lagi belum juga muncul (ingat istilah konstipasi di dunia kesehatan?). Bukan karena faktor kamera ataupun kondisi tubuh, tetapi lebih pada objek unik yang belum juga terpikirkan. Hingga akhirnya tema kereta api untuk job buku kenangan tahun ini begitu menarik perhatian. Sejak saat itulah mood fotografi yang telah lama hilang secara perlahan pulih kembali seperti dulu.
Soal kereta api sebagai tema buku kenangan sebenarnya hanya sebuah opsi dari beberapa tema unik lainnya seperti retro dengan setting pabrik gula, shopping berlokasi di mall, dan transportasi udara berlatar kesibukan di sebuah bandara. Dengan pertimbangan kostum yang cukup kompleks dan dana yang memang terbatas, maka tema retro terpaksa harus dibatalkan. Sangat tidak mungkin jika tema yang diusung adalah retro sedangkan para model tetap saja menggunakan pakaian sehari-hari seperti setelan kaos oblong dengan kombinasi celana jeans ataupun sepatu kets. Opsi berikutnya adalah tema shopping yang menawarkan setting ruang publik dengan bangunan mall megah. Cukup menarik memang, hanya saja sukar diaplikasikan mengingat para model adalah sembilan belas siswa SMP yang harus bergaya di tengah keramaian mall. Untuk tema terakhir dengan setting bandara lagi-lagi harus tersisih karena kendala kostum, perlengkapan, dan tentunya birokrasi.
Selanjutnya, efek dari kedua aktivitas di atas adalah kembali berkutat dengan software pengolah gambar dan layout. Dari sinilah rutinitas kantor akhirnya kembali bergulir, trial and error seputar ketajaman gambar, kombinasi warna, intensitas gelap-terang, pemilihan filter, hingga nilai estetika. Efek lainnya, jobdes lembur di akhir tahun ajaran kembali terulang seperti yang sudah-sudah.

13 Maret 2009

Delapan Giga Via Pos


Coba ingat lagi, kapan terakhir kali Anda atau saudara di kampung mengirimkan paket penting via pos? Memang, cara tersebut sangat tepat dipilih mengingat hingga saat ini teknologi informasi belum sampai pada tahapan antar-jemput attachment berformat tiga dimensi. Lalu, bagaimana jika paket yang dikirim berupa data digital berukuran super besar? Ehm, kok jadi mirip tajuk sebuah majalah komputer ya...!!

Jadi, inilah paket yang pagi kemarin masuk ke kantor pos bersama surat dan paket serupa lainnya; dua keping DVD dalam sebuah cover plastik hitam berbungkus kertas amplop warna cokelat muda. Tujuan paket tertulis jelas wilayah kota tetangga yang berjarak sekitar 80 kilometer ke arah barat laut. Adapun penerima paket adalah seorang teman jaman kuliah dulu yang membutuhkan beberapa media pembelajaran berformat 'home theater' untuk para siswa tercintanya? Semoga tidak salah sebut.

Selain alasan mutlak yang telah disebut pada paragraf pertama, mengirim data digital bersatuan gigabyte via pos tetap lebih efektif mengingat jasa kurir manual ini sama sekali tidak membutuhkan syarat bandwith kencang. Di sisi lain, user juga dapat memperkecil kemungkinan data terkorupsi (corrupt) saat proses download berlangsung. Sisanya, tentu karena jasa pos tidak mengenal biaya hosting ekstra yang harus dibayar tiap bulan.

Secara teknis, sebelum beraksi terlebih dulu harus masuk toserba untuk membeli amplop cokelat, bolpen, dan permen karet. Amplop cokelat digunakan untuk membungkus paket agar terlihat rapi, bolpen untuk menulis alamat lengkap penerima paket juga URL blog ini selaku pihak pengirim (bolpen harus beli dulu karena status bukan lagi mahasiswa yang menjadikan barang itu sebagai kebutuhan primer :D), dan tak lupa permen karet untuk dikunyah sebagaimana mestinya.

Sampai di kantor pos ternyata masih diwajibkan antri untuk sekadar menunggu pelayanan dari petugas (antri=kelemahan jasa manual?). Saat itulah terlihat sesuatu yang unik dan agak serius di atas meja kasir. Lem kertas? Bukan (karena waktu itu memang tidak disediakan), tapi sebuah papan pengumuman mini berisi daftar barang-barang yang tidak diperbolehkan dikirim via pos, seperti:
- Kiriman yang disertai uang
- Kiriman yang disertai barang pecah belah kecuali di peking (peking???)
- Kiriman yang berisi HP (hand phone)
- Kiriman yang berisi logam mulia
- Kiriman yang berisi sesuatu yang mudah busuk
- Kiriman yang berisi sesuatu yang baunya menyengat
- Kiriman yang berisi sesuatu yang mudah meledak ataupun benda tajam
- Kiriman yang berisi bahan elektronik kecuali di peking (...lagi)
- Kiriman yang berisi cairan

Beruntung DVD bajakan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan hak cipta tidak masuk dalam daftar. Jika masukpun, mungkin masih bisa dimaafkan karena sebatas pemakaian pribadi dan nonprofit. Oh ya, mendadak teringat sebuah adegan tentang permen karet dalam film Macgyver puluhan tahun silam. Akhirnya, semoga kunyahan permen karet tidak dianggap sebagai bahan substitusi lem kertas yang mudah busuk ataupun berbau menyengat :D.

25 April 2008

Kembali Lagi


Setelah cuti ngeblog selama tiga zaman (zaman blogspot rewel, sembuh sampai rewel lagi), tibalah saat yang ditunggu-tunggu untuk mengucapkan, "Halo Blogger...!!!" Terima kasih kepada saudara-saudara blogger atas kesediaan maupun keterpaksaannya menikmati isi blog yang semakin hari semakin lawas ini. Semoga tetap ada waktu untuk sekedar mencicipi kopi dan pangsit ayam seperti kemarin. Oh ya, berikut ini ada sedikit oleh-oleh dari liburan tempo hari.
[1] Lembur. Terkadang keseriusan memang diperlukan untuk berimprovisasi sepanjang waktu di depan komputer. Hasilnya, beraneka macam gambar desain mulai dari logo, pamflet, proposal, kaos, spanduk, backdrop, hingga lapangan futsal.
[2] Pilek. Selain identik dengan hawa dingin, ternyata penyakit ini juga dikenal sering menyerang di musim pancaroba. Indikasinya; hidung berair, telinga serasa kedap udara, batuk, hingga sulit bernafas. Mungkin gara-gara telat update antivirus.
[3] Blogger to Campus. Misi baru sebagai alumni kampus tercinta, menyebarkan blog hingga ke sudut ruang kuliah. Kesan khusus; menjadi trainer blog di ruang ber-AC dengan hidung berair, mantab. Ada yang ditanyakan?
[4] Nonton. Kali ini bersama adik tertua yang katanya belum pernah masuk bioskop lagi sejak 1993. Kesan khusus lagi; ternyata harga tiket bioskop lebih murah 5000 perak dari harga VCD bajakan....!!!
[5] Drop. Semua gara-gara segelas kopi susu jumbo yang diminum berturut-turut setelah Josua ekstra besarnya habis. Efeknya, pagi hari badan terserang pegal-pegal akut. Konon inilah yang dinamakan overdosis kafein.

4 April 2008

Kopi Joss Plus Nasi Kucing


Berbekal informasi dari seorang senior di tempat kerja plus kondisi perekonomian yang masih cukup makmur di awal bulan, maka tidak ada salahnya jika jalan-jalan kali ini turut membawa serta misi berburu Kopi Joss dan Nasi Kucing. Tujuannya jelas, mengobati rasa penasaran seputar istilah Kopi Joss dan membuktikan bahwa Nasi Kucing tidak hanya ada di Yogyakarta dan Solo.
Setelah mencari di setiap sudut pertigaan kota akhirnya sampai juga perjalanan kali ini di sebuah warung gerobak "WEDANGAN HIK SOLO" (HIK=Hidangan Istimewa Kampung). Berlokasi di sisi timur jalan Gajah Mada Sidoarjo kota, tepatnya di depan toko mebel terkenal (agak ke utara sedikit) warung ini terlihat jelas di bawah terangnya cahaya lampu PJU.
Jika diperhatikan lebih seksama ada yang istimewa dari tempat ngopi ini. Untuk keperluan memasak dan memanggang, warung ini menggunakan batu bara sebagai bahan bakar. Yang tidak kalah menarik, selain berfungsi sebagai bahan bakar alternatif, batu bara di sini juga dimanfaatkan untuk membuat Kopi Joss. Joss sendiri berasal dari bunyi bara api yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air, kopi dan gula. Soal rasa jelas berbeda dari kopi biasa.
Ada juga Nasi Kucing yang berukuran sangat mini, kurang lebih seperlima dari porsi normal nasi kelas warteg. Lauk standar yang disertakan berupa sambal goreng tahu-tempe kering dengan rasa yang sangat khas, enak plus gurih. Selain sambal goreng, bisa juga ditambahkan kepala ayam goreng, sayap, ceker, atau sate kulit kambing yang akan dipanasi oleh mas-mas spesialis bagian pembakaran sesuai permintaan konsumen. Tentu dengan sedikit biaya ekstra untuk lauk-pauknya.
Keistimewaan lain yang ditawarkan angkringan ini adalah soal harga. Untuk tiga bungkus Nasi Kucing, satu gelas Kopi Joss, satu tusuk kepala ayam, dan satu gelas teh jeruk nipis ongkos yang harus dibayar cukup 5.400 perak.

+ Cerita lain tentang Kopdar dan KopJoss ada di sini
+ Mini kopdar dadakan ada di sini

6 Desember 2007

Cuci Motor

Toni (belum punya blog), salah seorang teman kuliah 2-3 tahun lalu pernah berhipotesis bahwa kepribadian seseorang dapat dilihat dari motornya (untuk sepeda dan becak menyesuaikan ^&@%#$@^%^&*#...). Motor yang selalu bersih mencerminkan bahwa sang pemilik cinta akan kebersihan, motor yang penuh dengan lumpur dan debu mencerminkan bahwa sang pemilik suka berkubang (hehehe...!), dan seterusnya. Lain lagi ceritanya ketika motor kesayangan baru dicuci tapi kembali kotor karena cipratan air hujan (uh...!). Daripada harus berepot-repot lagi dengan shampo motor, ember, lap basah, sikat, kuas, lap kering dan pengkilat cat, lebih baik serahkan saja pada ahlinya.
Di kawasan Ketintang Surabaya (sekitar kampus UNESA) ada sebuah tempat pencucian motor yang menawarkan harga ekonomis dengan hasil sangat memuaskan. Untuk setiap kali pencucian (plus pelicin minus setrika) ongkos yang harus dibayar cukup 6.000 perak. Uniknya lagi, untuk kendaraan dengan nomor polisi atau pemilik yg sama setiap 6x pencucian gratis 1x (mirip bonus depo isi ulang).

22 Oktober 2007

Oleh-oleh Mudik Lebaran

Fuih... akhirnya bisa ngeblog lagi. Apalagi kalau bukan karena acara mudik yang "begitu spesial" di kampung halaman. Spesial pertama, karena libur lebaran kali ini adalah masa liburan yang cukup panjaaaaaaaaaaaaaaang (catatan: setiap huruf "a" mewakili masa satu hari). Spesial kedua, karena masa liburan yang cukup panjaaaaaaaaaaaaaaang itu ternyata disertai dengan ujian "hari-hari tanpa akses internet" yang lumayan berat (halah, hiperbola banget...!). Ya, karena untuk menuju warnet terdekat saja harus mampir terlebih dahulu ke SPBU yang berjarak enam kilometer dari rumah, warnetnya sendiri ada di pusat kota (kabupaten) yang berjarak kurang lebih duapuluh kilometer. Parahnya lagi, warnet yang berdiri sejak akhir abad duapuluh itu selalu saja full. "Masih penuh Mas..." begitulah kata mbak-mbak di belakang meja kasir yang selalu berulang setiap kali pintu warnet dibuka (kok lebih mirip mesin...?).
BTW, daripada menyesali masa cuti ngeblog yang tidak sengaja itu, berikut ini ada sedikit oleh-oleh dari kampung halaman. Selamat menikmati (in)... please enjoy (en)... wilujeng sumping (sunda)... halah...!


1. Buka ke-26. Inilah jepretan pertama sepanjang masa liburan di kampung kemarin. Menu buka puasa saat itu adalah sayur bayam, bandeng, sambal tomat, dadar jagung, perkedel, es degan, es teh dan es susu.
2. Surau kami. Adalah satu dari empat buah surau di kampung yang menjadi sentra kegiatan ibadah warga sepanjang bulan Ramadhan. Dari tarawih, tadarus, khataman, diba'an, sampai kenduri semua ada di sini.
3. Khataman. Acara khatmil Qur'an yang dikhususkan bagi bapak-bapak dan generasi penerusnya ini dilakukan pada tanggal 21, 23, 27, dan 29 Ramadhan (maleman) dengan tempat bergantian antara keempat surau yang ada. Tanggal 25 Ramadhan biasa diisi dengan acara bakti sosial atau khataman bagi ibu-ibu.
4. Diba'. Dimulai tepat setelah khataman selesai. Khataman dan diba' merupakan satu paket acara maleman.
5. Pepaya akhir Ramadhan. Kalau ini hasil jepretan iseng. Jadi heran, sejak kapan ada pohon pepaya sebesar ini di samping rumah??? Ya sudahlah, yang penting buahnya siap di-download...!
6. Touring. Tujuan "Touring Lebaran" kali ini adalah kota Babat (kabupaten Lamongan). Medan yang harus dilalui cukup berat, dari cuaca yang sangat panas akibat pengaruh global warming, banyaknya tikungan tajam, hamparan hutan jati yang meranggas akibat kemarau, hingga permukaan jalan khas pegunungan kapur yang naik turun semua serba menantang (yang ini pakai backsound).
7. Hasil bumi. Inilah mangga-mangga gadung pilihan yang dihasilkan dari batang pohon pilihan. Hehehe, mirip iklan...!
8. Kupatan. Semua yang disajikan dalam kenduri ini merupakan sajian khas "Lebaran Ketupat" yang dirayakan pada H+7 Lebaran.
9. Ketupat. Merupakan makanan khas Asia Tenggara yang biasa disajikan pada perayaan Lebaran Ketupat atau Riyoyo Kupat (Jawa) atau Lebaran Topak (Nusa Tenggara Barat). Enyak...enyak...enyak...!