Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coretan. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2024

Unfinished Workspace

 

Being in a new place within latest 11 months — 40 km away from my previous residence — finally I gave up on the internet service here, a village full of greenery and sea breeze. So, I have upgraded my network, along with its desktop and the table. Here’s my unfinished workspace.

Note to myself: Older gen technology means less problematic issues, more stable, 39% less money to spend for a 5% unhurried processor’s single core performance.

When a next gen arrives, you know what’s remained? Tentu saja generasi teknologi sebelumnya yang lebih terjangkau namun matang secara pengembangan. Demi produktivitas, 6 Core 12 Thread adalah sweet spot. Mengusung performa single core yang 5% lebih santai namun beranggaran 39% lebih hemat. Cocok dan proper untuk Excel.

28 April 2019

Penjenamaan atau Branding

Klik di ini untuk mengunjungi studio kami

Analoginya adalah, Anda seorang pemilik pabrik peralatan dapur baru. Teko, panci, penggorengan maupun mug logam adalah beberapa contoh hasil olahan pabrik Anda. Suatu pagi, sesaat setelah seruputan kopi ketiga, Anda mulai berpikir bahwa produk-produk tadi tentu saja membutuhkan kemasan maupun buku panduan cara pakainya. Pun, untuk membuatnya dibutuhkan sejumlah tahapan yang lebih dari kata singkat. Sejenak Anda sadar, bahwa ratusan juta rupiah bukanlah jumlah yang kecil untuk sekadar membangun devisi perancang kemasan beserta hardware, software, maupun brainware-nya. Semua orisinil agar berkah. Hingga pada sore harinya, satu pencerahan seputar istilah 'crowdsourcing' terlontar dari karyawan Anda yang ahli di bagian listrik. Sebuah celah untuk mengakali pembangunan devisi baru itu. Sebuah celah untuk menghemat waktu, biaya, bahkan listrik. Nah, saya adalah satu dari orang-orang pengisi celah itu. Apa? Yang tanya?

Ah, sudah sore lagi. Jangan lupa cuci beras!


13 Maret 2018

Jogja dalam Romantisme


Cinderamata hari kemarin, sate jamur dari warung spesialis jamur di jalan Magelang. Sebenarnya, mampir ke sana adalah demi romantisme masa kecil, botok jamur khas Emak. Sayangnya masih belum oke, belum dapat. Tapi, inilah bonusnya! Saya yakin orang-orang di luar sana menyebutnya sebagai Wanderlust.

Soal jamur yang saya ingat, adalah sebentuk hasil 'panen' Mbah Kung di tanggul Brantas selagi mencari rumput untuk makanan pokok si Nganu. Em, saya tidak tau apakah beliau benar-benar pernah menamakannya, seekor kuda cokelat pekat penarik dokar keluarga kami. Berjaya, begitu berjaya. Sebelum tanda-tanda keberhasilan revolusi industri menyentuh setiap sudut pasar kecamatan, mobil angkutan pedesaan.

Gambar satu diambil tepat tiga hari sebelum move-on seratus persen dari Surabaya menuju Jogja. Ya, untuk selanjutnya kami sekeluarga akan menetap di Jogja. Adalah gambar kedua, Sancaka Pagi yang dijepret pada September lalu dengan kamera ponsel. Kedua gambar dimasak melalui dua hingga tiga kali penyaringan.

29 Desember 2017

Terima Kasih Dua Ribu Tujuh Belas


[20 NOV | 08:18] Usianya kurang lebih enam puluhan. Berkerudung masa kini dan berjarik. Melayani pembeli sembari menggoreng beberapa tusuk baso dengan kompor gas satu tungkunya. Juga membungkus nasi kucing setelahnya. Berniaga seorang diri tepat di sisi timur ujung ringroad Gamping, sebuah angkringan dalam gerobak dorong. Buka hanya di siang hari, meski kemarin baru tutup menjelang maghrib. Tidak berjualan di malam hari semata-mata karena di sekitar lokasi ada angkringan lain yang buka pada jam malam. "Manut mawon," katanya. Lalu, apa alasanku untuk mengeluh soal ini itu?

[07 DES | 06:43] Pagi ini untuk kali kedua aku mampir dari tugas pagi hari di kawasan pasar Gamping, Sleman. Angkringan Bismillah oleh seorang perempuan berusia enam puluhan. Tahukah apa yang membuat kakiku terhenti tepat sebelum turun dari motor? Di sudut kiri bawah spanduk depan warung tertulis, "25% Keuntungan Disedekahkan." Lalu, apakah 'precious' dan 'priceless' memiliki kedekatan makna dalam sastra Inggris? Ah... sudah Jumat lagi. Jangan lupa jaga kesehatan!

Visualisasi dan suara hanya pemanis. Masih banyak sisanya di tempat 'ngarsip' baru saya, Dribbble. Temukan juga yang sejenis di tempat penyimpanan arsip dengan dimensi lebih panjang dan lebar di Behance. Beberapa ada pula di channel YouTube saya dalam bentuk tutorial seperti video di atas.

22 Oktober 2016

Anda Memasak, Saya Sediakan Bukunya


Setengah satu dini hari, seorang emak-emak mengubungi via email. Katanya baru saja dia membeli item yang cantik ini, namun hanya menemukan file pdf yang benar-benar dapat dibuka. Beberapa file lain tampak sangat asing bagi Photoshop CS5 di komputernya. Ceritanya, si Emak akan menghadiahkan sebuah kejutan berbentuk buku resep masakan Italia untuk menantu barunya, tetapi tidak ingin kejutan itu gagal saat bertanya seputar bagaimana cara mengoperasikan komputer kepada anak lelakinya. Ya, item ini hanya support untuk InDesign CS4 ke atas. Selamat belajar, mak. Semoga sukses untuk kejutannya. Tenang, anakmu tidak ada dalam daftar pertemananku.

Gurih 86 Recipe Book template. Setiap piksel dan goresannya dikerjakan dengan sepenuh hati. Tersedia dengan fitur Character/Paragraph Styles untuk Adobe InDesign CS4 atau versi terbaru. Cocok bagi emak-emak pecinta buku masak, tukang setting, ataupun koki yang bekerja paruh waktu sebagai media artist.

 

9 September 2015

Story, Style, I Quit!


I missed my phone in this pic. It has a role as shooter for my daily companions; a pocket, 10 GB internet prepaid card, one of design book trilogy, -1.5 glasses, Evoque diecast, a mouse, 8% caffeine white coffee, and 13" ZenBook. Yes, last May i decided to resign from my nine years job and focus as a self-employed editorial designer.

Hehe... Maaf bukan dibajak tapi memang saya baru online lagi setelah hiatus sepanjang tahun. Sampai kapan? Entahlah! mungkin sebelum offline lagi untuk melakukan banyak hal menarik di luar sana, sana, sana dan sana.

Penting? Entahlah! Lalu apa manfaatnya bagi saya, hah? Jawab! *plakkkk!!!

17 Juli 2014

Gadget

https://www.flickr.com/photos/fiz-online/sets/72157645648724106/

Dua bulan tanpa ponsel itu seperti hidup di jaman es. Hanya saja jika saat itu belum ada jejaring sosial, maka hari ini kita sudah punya Facebook yang untuk sementara waktu dapat mensubstitusi fungsi dasar sebuah ponsel. Oh ya, kali ini kita akan membahas tentang gadget, sebentuk peranti kasar yang berpadu dengan peranti lunak sebagai pendukung kehidupan manusia sehari-hari. Tanpanya kita bisa bersantai sambil membaca tabloid kertas atau bercengkerama dengan sesama manusia selama mungkin. Independen? Tentu saja. Karena saya tidak berafiliasi dalam bentuk apapun dengan pabrik manapun.
Mengapa ini, bukan itu? Selain karena kebutuhan, beberapa fitur berikutlah yang membuat saya menjatuhkan pilihan ke produk yang sempat terkendala di Dirjen Bea dan Cukai itu.
  • Secara teori benda ini berinti dua, akan tetapi berkat dukungan teknologi Hyper-Threading sistem operasi akan membacanya sebagai pekerja keras berinti empat.
  • Kaca depan sekuat kingkong. Meski begitu, lalu apa salahnya berjaga-jaga dari goresan jenis apapun. Thanks to Plastik Antiminyak.
  • Dua tombol fisik, power dan volume up/down. Itu saja! Sisanya biarkan elektrik.
  • Kamera disertai flash.
  • Harga terjangkau untuk setandan teknologi yang diusungnya.
  • Istimewa, karena untuk meminangnya harus menunggu selama 61 hari, siang dan malam.

24 Mei 2014

Menyederhanakan Sesuatu yang Kompleks


Tentang apa yang saya dapatkan setengah tahun ini, sungguh tidaklah terlalu penting. Hanya beberapa fenomena yang sedikit merubah cara pandang saya terhadap hal-hal kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Membaca tabloid, mengurangi konsumsi kopi, membeli CD original, berkacamata, bahkan hidup tanpa ponsel adalah sejumlah cara baru saya menikmati hidup dengan lebih simpel.
Terhitung sejak awal Mei, maka genap setengah bulan saya hidup tanpa ponsel. Dengan begitu, aktivitas konvensional seperti bersantai sambil membaca tabloid kertas bisa terlakoni kembali. Tanpa ponsel, saya lebih bisa bercengkerama dengan sesama manusia selama mungkin. Suatu bentuk sosialisasi sederhana yang akhir-akhir ini sukar dilakukan dengan gadget di tangan. Begitu menyenangkan, karena Tabloid Kertas dan Bercengkerama belum dijual di Android Market.
Berikutnya tentang musik. Sebelumnya, tidak ada salahnya jika kita meluangkan waktu sejenak untuk menonton sebuah film dokumenter Artifact (2012) atau tayangan Music Everywhere di TV. Sudah rampung? Lalu, semoga kebiasaan yang satu ini bisa mendukung eksistensi para personel yang hidup dan berjuang di dunia musik, "Sebisa mungkin hindari pembajakan, belilah CD original jika masih tersedia di toko musik!" Bukankah lebih nyaman mendengar musik dengan bit rate 1411 kbps via CD daripada 128 kbps hasil download gratisan? Cobalah!
Oh ya, masih ingatkah kawan dengan posting saya tentang game beberapa waktu lalu? Itulah salah satu penyebab otot silaris di kedua mata saya semakin kacau dalam hal akomodasi. Satu game dalam durasi ratusan jam dari jarak kurang dari semeter. Benar-benar melelahkan. Efek samping yang berhasil diraih adalah sulit membaca subtitle film layar lebar dari deret kursi K. Lalu, hasil tes mata pun mencantumkan angka -1,25. Banyak tawaran terapi mandiri untuk memulihkan penglihatan dalam jangka waktu lama. Juga iklan seputar alat pemijat yang bisa menyembuhkan mata minus, tapi sukar didapat. Singkat cerita, terpilihlah kacamata sebagai solusi cerdas nan taktis untuk mengatasi rabun jauh.
Di antara sejumlah poin di atas, mengurangi konsumsi kopi adalah yang paling sukar dilakukan. Jika merupakan suatu kewajiban, maka saya harus bersiap dengan segala konsekuensinya, seperti sakit kepala yang teramat sangat pada pagi hari menjelang siang. Belum lagi ditambah kontraindikasi mata berair, nyeri otot bahu dan potensi otak yang menurun drastis. Solusinya? Saya memutuskan untuk pindah mazhab dari pengagum kopi hitam menjadi pemuja kopi putih. Sederhana, bukan?

Original

24 Desember 2013

Keong


http://www.flickr.com/photos/conchwillow/3405602862

Hingga hari ini aku masih heran, dari mana Pak Tukang Rombeng (PTR) kala itu mendapatkan hewan laut bernama keong. Bukan keong sawah yang bertubuh lunak, tetapi umang-umang, sebangsa kepiting tak bercangkang dengan kegemaran merampok cangkang hewan lain untuk dijadikan rumah. Padahal, secara geografis, desaku berjarak ratusan kilometer dari laut. Bagaimana menghidupi keong selama perjalanan jauh pada awal 90-an? Tidakkah keong-keong itu harus berganti cangkang karena tubuhnya tidak lagi muat di cangkang yang lama?
Soal PTR. Jika pada umumnya tukang rombeng bersepeda melayani barter benda-benda bekas dari plastik dengan kerupuk atau bawang untuk didaur ulang, maka rombeng jenis ini sungguh telah melakukan terobosan revolusioner, menukar barang bekas dengan keong. Target pemasaran jelaslah bukan ibu-ibu, tetapi anak-anak yang masih gemar bermain patil lele, lempar karet, bekel, dakon, dan tentunya balap keong.
Efek samping dari terobosan ini adalah beberapa anak langsung berlari masuk rumah, mencari apa-apa yang sekiranya bisa dikeongkan. Sendal jepit emak, cepuk plastik penakar beras, mainan lawas, hingga suku cadang apapun dari benda manapun tak pernah lolos dari sistem seleksi khas anak-anak, "Mak, yang ini masih dipakai?" Jika kepalan tangan yang terangkat berarti benda itu gagal jadi keong, dan sebaliknya. Adapun benda-benda yang sukses menjadi keong bisa dipastikan segera menemani hari-hari bermain anak-anak pilihan itu. Beberapa sudut kampung segera dihiasi kerumunan anak dengan kolam keruh seukuran mangkuk di bagian tengahnya, arena balap keong. Dari arena-arena semacam itulah keong-keong juara dikader. Keong juara pada umumnya merupakan keong bercangkang bulat, karena keong bercangkang runcing sering ditemukan menancap hidup-hidup di dasar kolam. Juga keong yang percaya diri, keong dengan kebiasaan bangun sendiri tanpa bantuan nafas buatan dari sang Empunya.

Catatan: Gambar keong saya pinjam dari flickr. Klik saja untuk menuju TKP.

11 Mei 2013

Bangkalan

Dari tujuan awal perjalanan berupa Abon Tongkol dalam kemasan, saya berusaha menambahkan poin lain dalam itinerari jalan-jalan kali ini. Bukankah sangat disayangkan apabila perpaduan cuaca cerah dan mood bagus hanya akan menghasilkan beberapa bungkus buah tangan? Lagipula, saya memang perlu jalan-jalan keluar kota lagi dengan tas di punggung, seperti para backpacker melakukannya. Oke, sekarang Mercusuar Sembilangan sudah masuk dalam daftar, setelah Jembatan Suramadu dan Abon Tongkol.
Berbekal tas punggung dan ponsel pintar hadiah ulang tahun Nyonya Besar, perjalanan dimulai dari kawasan Surabaya Selatan menuju kota Bangkalan via jalur nontol. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah lima puluh dua menit untuk jarak tempuh tiga puluh delapan kilometer. Ada alasan ketika saya lebih percaya navigasi ponsel daripada peta kertas yang baru bisa terbaca setelah dipadu dengan kompas. Sangat melelahkan jika pengalaman di Solo tahun lalu terulang lagi, enam belas menit untuk jarak 1,5 kilometer.
Suramadu, beberapa menit kemudian sampailah saya di sana. Jembatan terpanjang di Indonesia itu telah melintasi selat Madura sejak 2009. Ada sensasi tersendiri saat menyeberangi jembatan seharga 4,5 triliun itu. Perasaan bangga sebagai warga Jawa Timur sekaligus takjub, campur aduk jadi satu. Sejenak saya menyempatkan berhenti di bentang tengah untuk ambil gambar, meski sebenarnya aktivitas semacam itu sangat ilegal.
Perjalanan berlanjut menuju pusat kota Bangkalan. Indikator sinyal HSDPA maupun 3G di ponsel terlihat naik turun. Syukurlah, beberapa spot seperti Alun-alun, Masjid Agung Bangkalan dan lokasi Abon Tongkol masih terakses foursquare. Sementara itu mendung terlihat berarak di atas kota, siap turun sebagai air hujan di musim pancaroba ini. Semoga cuaca cerah tetap mendukung aktivitas snapshot dalam trip tanpa kamera digital kali ini.
Baiklah, saya mengaku! Sebenarnya, Abon Tongkol adalah tujuan utama yang lambat laun menjadi sekunder karena faktor jarak dan daya tahan tubuh. Jadi, setelah check in di Masjid Agung, mencari rute si Abon, sampai di lokasi, barang dipilih, menebusnya dengan beberapa lembar puluhan ribu dan memasukkannya ke dalam backpack, satu lagi sesi perjalanan yang harus dituntaskan sebelum petang, Mercusuar Sembilangan. Estimasi waktu yang dibutuhkan adalah empat belas menit untuk jarak delapan kilometer dari pusat kota.


Asingnya medan rupanya belum berhasil membuat laju motor saya melambat. Sesekali, kebingungan akan opsi ruas jalan mampu dipecahkan oleh mesin pemandu lokasi yang kala itu merangkap juga sebagai penunjuk waktu, alat komunikasi maupun kamera. Keterbatasan navigasi ponsel baru terasa ketika lokasi yang ditampilkan hanya berupa tempat-tempat umum seperti balai desa atau sekolah, tidak untuk tempat-tempat terpencil. Itulah alasan yang melatarbelakangi pertanyaan saya seputar lokasi Mercusuar Sembilangan kepada seorang penduduk setempat. "Ikuti saja jalan item, Mas!" jawab seorang bapak di depan teras rumahnya. Memang benar, setelah satu kilometer mengikuti jalanan sempit beraspal hitam dari ujung desa, sampailah saya di sebuah persimpangan kecil yang mengarah ke sebuah objek tinggi di tepi pantai. Sein kanan menuju Mercusuar Sembilangan.
Hanya dengan empat ribu rupiah untuk parkir motor dan bea masuk lokasi, saya telah mengantongi izin akses ke seluruh bagian mercusuar. Bangunan yang sepenuhnya terbuat dari lempeng-lempeng logam itu didirikan pada pemerintahan Belanda tahun 1879. Fungsi dasar bangunan setinggi enam belas tingkat itu adalah sebagai pemandu kapal-kapal Belanda yang akan bersandar di pelabuhan Tanjung Perak.
Berbekal semangat dan kamera ponsel alakadarnya, saya mencoba naik dari satu lantai ke lantai berikutnya. Di masing-masing lantai, saya mendapatkan sudut pandang berbeda untuk setiap benda di permukaan tanah yang biasa-biasa saja dalam sudut pandang mata manusia, bahkan membosankan. Hijaunya vegetasi bakau, detail pepohonan di tepi jalan, maupun warna jingga atap rumah-rumah penduduk dapat terekam sempurna dalam format digital berkat intensitas cahaya matahari yang benar-benar tinggi siang itu. Inilah yang saya suka dari musim kemarau dan paket penyertanya, langit biru, awan tinggi, matahari bersinar terang. Lalu, apa lagi yang kurang?

7 Mei 2013

Sebuah Siang di Moselle


Perjalanan darat dari Nuremberg (Jerman) menuju Grimsby (Inggris) kala itu benar-benar menguras tenaga. Selain jarak tempuh yang super jauh, rupanya cuaca ekstrim seakan tidak merestui misi di awal musim panas itu. Ladang bunga, pemandangan alam khas Eropa di setiap sisi jalan, kopi hitam, maupun tembang-tembang dangdut Evie Tamala adalah hiburan mewah pengusir sepi yang selalu dapat mendongkrak suasana hati. Soal lagu, saya tetap menyukai kompilasi cinderamata dari abad ke-20 itu, terutama komposisi Kangen dan Bandung-Yogya. Adapun untuk kopi hitamnya, seperti biasa hanya mampu bertahan di dalam gelas dari masa selepas sarapan hingga tujuh jam ke depan.

15 Agustus 2012

Bab Dua


Matahari belum terlalu tinggi saat kami menuju Pos Jaga Bekol di sebelah utara Guest House. Tujuan kami satu, mencari informasi seputar pendampingan untuk paket tracking beberapa jam mendatang. Dari dialog antara teman kami Ady dan Bapak Penjaga Pos yang hanya berdurasi kurang dari tiga menit, kami diharuskan bergeser (sekali lagi) ke Pos Jaga Resort Bama yang berjarak tiga setengah kilometer untuk mendapatkan guide. Baiklah, lagipula cepat atau lambat kami memang harus ke Bama untuk melakukan ritual sarapan siang.
Seperti yang seharusnya terjadi, hari masih relatif pagi untuk berjumpa kembali dengan aspal bergelombang sesuai deskripsi tentang jalanan rusak tempo hari. Dari atas kendaraan, kami sempat menikmati atraksi rusa menyeberang jalan dan kawanan kera abu-abu yang berteduh di bawah rimbunnya pepohonan. Jauh di depan, tampak dua orang turis yang telah kami temui sebelumnya, Veronica dan Zdenka, berjalan ke arah pantai. Mereka telah berjalan kaki setidaknya dua kilometeran dari Bekol, tanpa seorang pemandu. Oke, sepertinya mobil kami masih muat untuk ditambah dua penumpang lagi.
Jika hari pertama fokus eksplorasi adalah savana, maka hari berikutnya kami berupaya menepati itinenari untuk mengupas sisi lain Baluran di Resort Bama, pantai. Tepat sekali jika penjaga kantin merekomendasikan Dimas, seorang ranger yang waktu itu 'tersedia' sebagai pemandu tracking. "Ber-tracking-lah dulu saudara sembari menunggu kami menanak nasi..." atau semacam itulah pesan yang sempat saya tangkap dari dua juru masak kantin. Ya, kami pun sepakat untuk melakukan tracking jalur pendek berupa susur pantai, melintas jembatan mangrove dan melibas rute bird watching.
Kesan seputar pantai Bama? Lumayan untuk pasir putihnya, menggugah selera untuk kerimbunan hutan bakaunya. Bagaimana dengan jembatan mangrove? Tunggu dulu! Berdasarkan literatur bergambar dari blog beberapa minggu sebelumnya, saya dan Ady merasa tampilan jembatan mangrove kali ini sama sekali jauh dari yang diharapkan, lebih eksotis. Tampaknya, perbaikan infrastruktur Taman Nasional telah menyentuh setiap ruas jembatan maupun dermaga yang dulunya sempat terabaikan. Lalu bagaimana dengan rute bird watching? Benar-benar rimbun, banyak nyamuk, tetapi menyegarkan. Cocok sebagai pengobat rindu kami selaku warga metropolis pada hutan rimba.
Akhirnya, kami harus cepat kembali untuk menikmati sarapan di kantin Resort Bama bersama nasi goreng dan sekaleng kopi cair. Juga beberapa menit ke depan bersama sabun mandi dan handuk di Guest House Bekol. Tak lupa packing untuk perjalanan berikutnya, eksplorasi sore di pantai berpasir putih lain yang berjarak 162 kilometer ke arah barat daya.
Oh ya, video di atas dibuat dengan sejumlah alat dan bahan yang relatif alakadarnya. Masih bersama poket bongsor berlensa 25 milimeter bawaan pabrik, Pinnacle Studio 12 edisi Ultimate, PC berotak dua tanpa kartu grafis, dan gambar mentah yang tidak cukup jernih berdimensi 1280x720 piksel. File jadi generasi 1.0 sempat dianggap melanggar paten karena memanfaatkan musik latar original dari Paloma Faith bertitel Technicolour.


24 Mei 2012

Bukan Itinerari


Dari atas meja kerja, di depan monitor sembilan belas inci, di sela-sela puluhan halaman soft copy yang harus kelar pertengahan Juni nanti, muncul aneka gambar sabana dari kawasan ujung timur pulau Jawa, Baluran. Begitu eksotis sekaligus mengejek, memohon untuk dikunjungi akhir semester ini. Itupun kalau masa liburan tidak maju ataupun mundur.
Meski itinerari belum kelar, setidaknya niat tulus ikhlas sudah ada di dalam hati, begitu juga banyaknya peserta dan waktu kunjungan yang nyaris telah bisa dipastikan. Rencananya sang Juragan bersama lima-enam teman kantor akan bersafari di Taman Nasional itu selama dua hari satu malam. Jobdes yang diusung dalam perjalanan kali itu adalah eksplorasi alam, landscape hunting dan refreshing. Semoga seiring berjalannya waktu muncul aneka pencerahan seputar spot yang rekomended untuk kami datangi, amin. Soal akomodasi, sepertinya sang Juragan harus banyak bersyukur karena destinasi yang dimaksud masih berada dan belum keluar dari wilayah yang bernama pulau Jawa, sehingga biaya apapun seharusnya tidak membahayakan kantong siapapun.
Tentu saja, prior knowledge seputar backpacking telah ada sejak tiga tahun lalu dan terus berkembang meski lambat hingga cerita ini ditulis. Hanya saja, jika selama ini rute jalan-jalan masih terbatas di area kota-kota dengan kandungan hutan dan padang rumput mendekati nol persen, maka sisa waktu sebulan ini harus banyak belajar tentang bagaimana survive bersama kamera digital, botol minum, nasi bungkus, teman kantor, peta kertas, guide boy, dan ponsel di alam liar. Semoga nanti ada yang bawa card reader plus laptopnya, amin.
Oh ya, ilustrasi anggrek didapat dari halaman depan rumah di desa, punya Ibu dan sama sekali bukan bunga liar. Soal kenapa pilih anggrek, lagi-lagi masalah selera. Siapa tahu masih berhubungan dengan eksplorasi alam. Terima kasih, mohon doa restu.

12 Januari 2012

Emak


Sejak dulu, kami para cucu memanggilnya demikian, meski sebutan itu lebih cocok diucapkan oleh ibu, bapak, paman dan bibi kami. Ya, Emak adalah nenek kami, istri dari almarhum Mbah Kung tercinta. Berumur 72 tahun, atau enam tahun lebih tua dari usia republik ini.
Bagiku, Emak adalah pembuat sekaligus pengaduk kopi yang handal. Jaman dahulu, pertengahan delapan puluhan hingga sembilan puluhan, sering kutemui Emak menghaluskan biji kopi dengan sebuah lumpang, perabot dapur serupa lesung berlubang satu yang hanya cukup dimasuki satu atau paling banyak dua alu saja. Berikutnya, kopi yang masih kasar itu disaring di atas kertas koran dengan pengayak tepung dari logam. Tapi itu dulu, hingga akhirnya semua proses tersebut diambil alih oleh tukang giling tepung di kampung sebelah.
Sejak 2009, setiap aku pulang kampung selalu tersedia kopi hitam di atas meja dapur. Ya, Emak tahu seleraku. Bahkan saat ibu melarangku untuk terlalu banyak mengkonsumsi kopi, Emak tetap saja membelaku dengan menyembunyikan gelas kopi buatannya di sekitar tumpukan karung gabah pojok dapur sebelah belakang. Satu hari satu gelas, aman lah!
Beberapa minggu lalu Emak menelponku dari desa. Lewat ponsel adik pertamaku, Emak menanyakan keadaanku di kota. Katanya, di dalam mimpi aku terlihat kurus sekali dengan sejumlah tulang rusuk yang terlihat jelas. Aku pun tertawa. Tentang kapan terakhir kali Emak melepas rindu via telepon, aku benar-benar lupa. Beberapa minggu kemudian aku memutuskan untuk pulang dan membuktikan bahwa aku baik-baik saja.
Dua Januari lalu, saat aku pulang ke rumah mertua di Jogja, bibi menghubungiku via telepon. Katanya, Emak telah dipanggil oleh yang Maha Kuasa, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Emak meninggal saat semua cucu dan anaknya kembali ke rumah masing-masing, tepat setelah kesembuhannya dari gangguan asam lambung beberapa hari sebelumnya. Emak telah menemukan cintanya di sana, Mbah Kung tercinta. Doa kami senantiasa menyertaimu.

18 Maret 2011

Antara J dan J


[21022011] Dari sebuah pertanyaan simpel, "Aku melewatkan apa saja?" Setidaknya diperoleh sedikit info yang cukup menarik. Ya, kami telah melewati empat buah event kebersamaan tanpa menyadari bahwa segala sesuatunya akan berlanjut di kemudian hari. Pertama, nonton bareng teman-teman terbaikku. Aku sendiri hanya sebagai undangan biasa yang bukan penggagas acara, bahkan tiket pun ngebon seorang teman. Kedua, ngopi setelah nonton bareng. Saat itu aku sempat meliriknya, ingat, hanya saja belum kenal. Ketiga, Kopi Darat alumni kampus tercinta. Dia datang bersama teman sekelasku waktu kuliah, sahabat terdekatnya yang notabene beda kampus dan beda rayon, sedangkan aku sendiri berperan sebagai koordinator acara. Terakhir, servis laptop. Pelayanan cukup standard antara tukang reparasi software dan konsumennya.

[22022011] Kopi itu mengandung bahan yang menyebabkan jantung berdetak kencang sehingga darah terpompa begitu cepat, itulah yang menyebabkan insomnia. Tapi terus terang, pertemuan yang kemarin itu ternyata jauh lebih dahsyat dari kopi, sampai-sampai aku tidak bisa tidur hingga jam dua (testimoniku pada sebuah perjumpaan kali kedua).

[24022011] Aku disugesti untuk menyanyikan sebuah komposisi dari Chrisye featuring Peterpan yang memang pas untuk menceritakan kisahku sepanjang siang tadi, aku pun menolak. Bukan berarti tidak siap, tetapi lebih karena sakit tenggorokan oleh es tebu yang aku minum tempo hari. Tanpa gitar, pasti akan banyak ditemukan bug di sana-sini :)

[25022011] Sore kelima, pertemuan keempat. Aku meminta beberapa lembar kertas untuk menuliskan nama seluruh anggota keluargaku mulai dari Bapak, Ibu, Bu Lek, hingga sepupu terkecilku. Aku lakukan itu karena esok harinya dia akan kuperkenalkan dengan Bu Lek dan berlanjut esok lusanya untuk Bapak serta Ibu di desa. Ternyata, sulit juga membuat corat-coret silsilah keluarga tanpa bantuan Notepad dan menu Rectangle tool.

[26022011] Sepulang dari rumah Bu Lek, dia sempat berujar tentang keuntungan dirinya yang tidak berpenyakit jantung. Aku rasa ada yang salah dengan caraku mengemudi, ternyata tidak! Dia hanya terkejut karena tujuh hari lagi sekompi keluargaku akan menemui orang tuanya di Jogja. Dia setuju.

[27022011] Jombang, Minggu siang. Sementara dia bercengkerama dengan Ibu di ruang tamu, aku meluncur ke arah dapur, nyeruput kopi hitam sebentar, berdialog dengan Emak, dilanjut dengan menikmati Haste to The Wedding-nya The Corrs di bawah keres samping rumah. The perfect part of my life has come!

3 Januari 2011

Tidak Ada yang Istimewa


Tidak ada yang istimewa dari event pergantian tahun kali ini. Hanya liburan tutup semester sepanjang empat hari, ditambah pelatihan satu hari, ditambah bolos satu hari, terakhir ditambah libur lagi tiga hari di kampung halaman. Itu saja yang membedakannya dengan hari-hari efektif selama ini.
Tiga puluh satu Desember sore hari, ada niatan untuk menggelar acara hiburan rakyat jaman baheula di samping rumah, layar tancap. Sasaran utama event ini adalah anak-anak kampung yang seluruhnya masih bersekolah di madrasah maupun SD kampung sebelah. Sukses? Tidak! Ternyata bagi anak-anak itu, film kartun tiga dimensi selucu apapun akan terasa cukup berat jika masih disajikan dalam bahasa Inggris.
Aktivitas lanjutan? Masih di depan laptop, memikirkan solusi finishing proyek limpahan tahun lalu. Ditemani Utopia dengan Hujan-nya yang memang pas dengan suasana di luar. Juga kopi hitam buatan Emak di awal tahun ini.
Intinya, selamat Tahun Baru. Ayo kita nyanyikan bersama-sama, "BARUda di dadaku, BARUda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang"

21 Desember 2009

Akhir Tahun


Ternyata aktivitas full time job di luar sana cukup menyita waktu dan tenaga. Begitu sibuk hingga pernah suatu ketika unit kerja itu harus standby tiga hari tiga malam nonstop dengan sistem shift dadakan. Selebihnya, hanya aktivitas tambahan untuk mengurangi rasa jenuh seperti ngeband atau online via layanan jejaring sosial tetangga yang terkenal mengandung candu itu. Oh ya, soal arsip bulan Nopember yang terlewat sebenarnya bermula dari sebuah ketidaksengajaan, sifat dasar manusia yang tidak perlu kiranya diulas panjang lebar di sini.
Mengenai kesibukan rutin akhir tahun, setidaknya foto di atas cukup bisa mewakili apa saja yang terjadi selama dua bulan terakhir. Dari kiri ke kanan dapat dilihat...
Speaker active. Hanya speaker plus super woofer standard yang setiap hari bertugas mengiringi aktivitas Sang Juragan dengan berbagai macam lagu. Dangdut, Pop Indonesia, Orchestra, Irish Folk Song, Rock, bahkan Symphonic/Gothic Metal-nya Within Temptation dari album pertama hingga terakhir mampu diperdengarkan dengan baik dan benar.
Gelas kopi jumbo. Setiap pagi secara rutin menyuplai kopi murni dengan rasio satu banding tiga untuk kopi lawan gulanya. Tentu saja ditambah air panas agar dapat diminum sebagai mana mestinya. Disruput dari pagi hingga menjelang dhuhur.
Mobile phone. Hanya ponsel biasa dengan fungsi dasar SLJJ, SMS, buku telepon, kalkulator, penunjuk waktu, dan tentu saja online gadget. Sekilas, penampilan luar gadget ini mirip dengan iPhone yang legendaris itu. Sayang hanya mirip.
Screen. Masih memanfaatkan tabung CRT, teknologi dengan satu macam keunggulan jika dibandingkan dengan monitor LCD ataupun TFT, radiasi berlimpah. Berumur tiga setengah tahun, cocok digunakan untuk menggambar, akses internet, ngeblog, bahkan manipulasi foto.
Kursi. Cukup nyaman dengan spons yang lumayan tebal. Sanggup digunakan kapan saja sepanjang waktu.
MP3 player & headset. Barang substitusi saat tetangga sebelah merasa tidak nyaman dengan irama Gothic Metal dari speaker active standard. Baik juga dipakai saat mengemudi atau jalan kaki.
Printer laser. Digunakan untuk mencetak data fisik, paling anti dengan lembaran kertas tipis yang dicetak bolak-balik. Dapat mencetak dokumen apapun dari 80 unit PC kantor via LAN.
CPU. Semua diproses di sini, dari arsip layout sekian tahun, gambar vektor, bitmap, file musik, video editing, koleksi film avi, dan tentunya file ketikan biasa. Berusia dua setengah tahun, berotak dua, dan berkapasitas 410 giga.
Scanner. Ditemukan pertama kali dalam almari abu-abu dengan kondisi terbungkus rapi dan bersegel. Dengan satu kabel, gadget ini terlihat begitu ringkas. Bertugas mengubah dokumen fisik dua dimensi menjadi data digital. Sewaktu-waktu dapat beralih fungsi menjadi mesin foto copy jika dikombinasikan dengan printer laser.
Laci serba guna. Berisi kamera digital, charger baterai kamera digital, kabel data kamera digital, hard casing kamera digital, juga card reader untuk transfer dokumen foto dari kamera digital.
Gitar listrik. Biasa digunakan bersama dengan drum, gitar bass, gitar melody, plus keyboard setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Jobdes lainnya, mengusir jenuh saat lembur akhir tahun berlangsung.
Kursi tetangga. Berspesifikasi sama dengan kursi sebelumnya, dan yang jelas tidak lebih hijau dari kursi sendiri.

30 September 2009

Tanpa Jam Dinding, Ponsel dan CPU


Awal Cerita
Karena kerusakan mesin, sebuah jam dinding gratisan sisa momen kampanya pilkada tempo hari harus kehilangan fungsinya sebagai penunjuk waktu. Berbagai cara seperti mengganti baterai hingga 'turun mesin' pun telah dilakukan, tapi hasil yang diharapkan tetap saja nihil.
Karena alasan tertentu, sebuah telepon seluler hitam mulus buatan Korea hasil barter dengan produk yang serupa warna silver buatan Finlandia beberapa bulan lalu 'ditemukan' menghilang dari tangan Sang Juragan tercinta dalam sebuah tempat resepsi berkapasitas ratusan pengunjung. Semua fungsi dasar maupun tambahan seperti SLJJ, SMS, buku telepon, kalkulator, online gadget, bahkan sekali lagi penunjuk waktu terpaksa harus berpindah tangan beserta sekeping simcard plus nomor cantiknya.
Dengan alasan segera di-up grade, sebuah CPU semi seken berspek lumayan tanggung harus rela 'dibaliknamakan' dan dimasukkan dompet dalam kurun waktu empat hari menjelang lebaran, saat sejumlah insentif dan THR menumpuk. Sampai di sini semua baik-baik saja, dalam artian harga komponen di pasar tetap terpantau dan jobdes CPU Must Go On pun masih terfokus. Setidaknya hingga kasus ponsel di atas terjadi.

Skala Prioritas
Tentu saja penunjuk waktu. Meskipun antara jam dinding, ponsel dan CPU memiliki fungsi itu, tapi dari segi apapun juga jam dinding tetaplah jam dinding dengan fungsi dasar paling sesuai. Akhirnya, solusi terbaik adalah beli jam dinding baru di toko elektronik terdekat. Soal ponsel, memang sudah saatnya berganti generasi sejak Si Silver terbeli tiga tahun lalu dengan simcard yang saat itu telah berusia empat tahun. Di lain sisi, kehilangan ponsel bagi Sang Juragan adalah sesuatu yang baru dan belum pernah terjadi sebelumnya, jadi masih termaklumkan. Solusi praktis untuk kasus ini adalah beli ponsel baru, reaktivasi nomor lama ke gerai resmi operator yang bersangkutan, isi ulang pulsa, beres.
Berbeda dengan jam dinding ataupun ponsel, CPU dengan satuan kilogram paling besar kali ini terpaksa harus berada di urutan terakhir dalam skala prioritas pengadaan aktiva tetap pasca lebaran. Selain cukup kompleks, tentu saja karena alasan klasik seputar pendanaan. Semoga awal bulan depan dua prioritas pertama segera terwujud dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar tetap tinggi untuk mewujudkan prioritas berikutnya. Amien.

Extended Cellphone Story
Critane dowo. Sakjane aq yo salah nang de'e. Paling mergo tak lokno hape lemot, fungsi tombol-tombole gak konsisten, guoblok dan lain-lain akhire de'e tersinggung terus kabur. Padahal masio iku hape dike'i, tapi sakjane aq jek sayang nang de'e. Gak popo lah, nek critene pancen ngunu akhire lak aku iso tuku sing anyar. Yo, masio sak jane nek de'e tak dol regane mung cuman kenek 250 ewu.

17 Agustus 2009

Seratus Persen Kutipan


Pada suatu waktu Pak Karno harus berfikir lebih keras untuk menulis sebuah naskah proklamasi kemerdekaan. Pada waktu yang lain kita cukup menikmati kemerdekaan itu dengan duduk santai sambil menyebarkan semangat perjuangan via facebook. MERDEKA! (My Facebook Status, 160809 20:52)

Kapan terakhir kali kau kepalkan tangan sekuat tenaga dan pekikkan Merdeka sepenuh jiwa? Kemerdekaan bukanlah kisah masa lalu, kemerdekaan adalah semangat masa kini dan mercusuar penentu arah masa depan negeri kita tercinta. DIRGAHAYU 64 TAHUN REPUBLIK INDONESIA. (Jawa Pos, 160809 hal 7)

Waktu bergulir begitu cepat. Kita harus bergegas membenahi wajah, mengolah kekayaan negeri degan cermat, membina kerukunan dengan tulus, menjalin kerja sama dengan seksama serta menata sikap sebagai bangsa yang besar, bangsa yang terhormat. Mari berlari menuju masa depan meraih satu tujuan! DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ke 64. (Jawa Pos, 160809 hal 5)

7 Maret 2009

Jatuh Sakit


Semua orang tentu menginginkan sosok komputer yang sehat dan cerdas. Bisa diajak ngantor siang malam tanpa menyusahkan juragan tercinta. Mampu berlari kencang, tahan banting, pintar bernyanyi dan tidak berisik. Juga enak diajak ngeblog. Tapi, apa boleh buat jika mesin yang satu ini mendadak jatuh sakit?
Menurut seorang teman dan teman yang lain, hati-hatilah pada bulan Februari karena pada bulan itu berbagai jenis penyakit komputer varian baru sering sengaja disebar oleh pihak-pihak tertentu untuk menyerang siapa saja yang lemah. Mengapa harus Februari? Kurang paham. Mungkin masih berhubungan dengan tradisi import makan cokelat bersama itu :).
Bukan keajaiban jika sebuah komputer yang jarang terserang penyakit kronis justru tiba-tiba kolaps begitu saja. Tiga merek antivirus pun ikut amblas oleh varian penyakit yang benar-benar baru. Parahnya, jaringan yang nyata-nyata berperan sebagai jembatan antar PC di kantor ternyata turut berpartisipasi menyebar teror kerusakan sistem kemudian dibuat macet sama sekali. Susah? Tentu, tapi dilarang panik.
Beruntung saat berlenggang di jagat web, sebuah produsen antivirus terkenal menawarkan mesin generasi terbarunya untuk dibawa pulang dan digunakan seperlunya dengan cuma-cuma. Yang ajaib, selain belum perlu diupdate karena benar-benar fresh from the oven, mesin itu juga mampu bekerja efektif baik dengan atau tanpa OS sekalipun. Soal kemampuan mendeteksi virus, jangan diragukan. Dalam kasus terparah, dari kurang lebih satu jam proses pembersihan hardisk berkapasitas 250 giga diperoleh report file berformat *.txt sebanyak 142 halaman Quarto (letter).
Dari sini, akhirnya aktivitas format-instal komputer ala mahasiswa kost yang telah lama tertinggalkan harus berulang kembali. Tiga komputer terhitung sejak dua hari yang lalu hingga pagi tadi sebelum sarapan, fuih! Oh iya, ternyata pelajaran di bangku SMA seputar command prompt 10 tahun yang lalu masih sangat relevan untuk diaplikasikan hari ini. Dasar teknologi :)