8 Januari 2014

Jeng-jeng Sekaten


Baiklah, kali ini saya benar-benar harus rehat untuk sementara waktu, setelah memikul tugas ekstra sepanjang dua setengah bulan terakhir. Lagipula, bagi saya naik cetak adalah nikmat yang patut dirayakan dengan suka cita. Jika ditimbang, lima karya mungkin sebanding dengan satu minggu liburan ke luar kota untuk sekedar jalan-jalan melepas penat. Jeng-jeng kata orang Semarang.
Selain (tentu saja) pulang ke rumah mertua, misi liburan kali ini adalah menengok keramaian Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Lor Yogyakarta. Barangkali ada yang menarik di sana, maka turut terlibat sebuah poket bongsor berlensa tanggung 25mm WIDE dengan 12x optical zoom sebagai peranti dokumentasi. Jadi, DSLR dan kamera ponselnya sementara minggir dulu.
Usai berkemas dan mengisi ulang baterai aneka gadget, sebuah pesan bergambar tiket kereta api masuk via group chat. Satu kejutan ringan yang tidak terencana, bahwa seorang teman lama juga berniat melakukan perjalanan ke Yogyakarta sore itu dalam rangka menghadiri sebuah hajatan. Setio namanya, teman satu kelas yang sempat hilang ditelan bumi pada semester-semester akhir kami kuliah. Ah, sulit dipercaya! Kami berdua memiliki tiket untuk kereta dan nomor gerbong yang sama. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya tidaklah jauh dari reuni kecil-kecilan di antara kami. Obrolan seputar keluarga, pekerjaan, kegemaran baru, fotografi, maupun jenis kamera, mengalir begitu saja untuk beberapa jam ke depan. Begitu seterusnya, hingga kami turun dari kereta dan berpisah di Stasiun Tugu.
Kembali ke Pasar Malam Sekaten. Secara etimologi, istilah Sekaten berasal dari rangkaian kata syahadatain atau dua kalimat syahadat. Nama Sekaten diperoleh dari fungsi awal digelarnya pasar malam semacam ini pada zaman wali songo, yaitu untuk menyebarkan agama Islam melalui jalur budaya. Adapun hiburan yang ditampilkan pada saat itu adalah pagelaran wayang kulit dengan tiket masuk berupa ucapan dua kalimat syahadat.
Zaman telah berubah, wayang kulit yang dulunya merupakan hiburan tunggal dalam Pasar Malam Sekaten telah berganti oleh wahana-wahana modern seperti ombak laut, kora-kora, tong setan, komedi putar, rumah hantu, hingga bianglala. Kecuali ombak laut yang turut menambahkan adegan akrobatik melayang di udara untuk para pemutarnya, semua wahana di atas dapat dinikmati pengunjung dengan rata-rata tiket seharga 8.000 rupiah.
Beruntung saya tiba di lokasi selepas gerimis mengguyur Yogyakarta dari sore. Itulah yang saya cari. Bukan beceknya lapangan, tapi lebih pada absennya debu yang identik dengan lapangan tanpa rumput seperti Alun-alun Lor. Waktu pun masih cukup sore untuk memulai eksplorasi setiap sudut pasar malam.
Dari area bianglala, saya bergeser menuju lapak para penjual makanan dan mainan. Biar lebih dapat di human interest-nya, pikir saya. Kembang gula dan kapal minyak, dua macam cinderamata itu saya pilih sebagai oleh-oleh untuk dua orang keponakan yang sedari tadi mengikuti pergerakan saya ke sana kemari. Karena itu pula eksplorasi kali ini tidak bisa optimal, terikat jam malam untuk segera mengembalikan anak-anak itu kepada empunya. Jadi, ini saja yang dapat saya rekam melalui kamera poket bermode Pemandangan Malam, dengan editing sewajarnya.


24 Desember 2013

Keong


http://www.flickr.com/photos/conchwillow/3405602862

Hingga hari ini aku masih heran, dari mana Pak Tukang Rombeng (PTR) kala itu mendapatkan hewan laut bernama keong. Bukan keong sawah yang bertubuh lunak, tetapi umang-umang, sebangsa kepiting tak bercangkang dengan kegemaran merampok cangkang hewan lain untuk dijadikan rumah. Padahal, secara geografis, desaku berjarak ratusan kilometer dari laut. Bagaimana menghidupi keong selama perjalanan jauh pada awal 90-an? Tidakkah keong-keong itu harus berganti cangkang karena tubuhnya tidak lagi muat di cangkang yang lama?
Soal PTR. Jika pada umumnya tukang rombeng bersepeda melayani barter benda-benda bekas dari plastik dengan kerupuk atau bawang untuk didaur ulang, maka rombeng jenis ini sungguh telah melakukan terobosan revolusioner, menukar barang bekas dengan keong. Target pemasaran jelaslah bukan ibu-ibu, tetapi anak-anak yang masih gemar bermain patil lele, lempar karet, bekel, dakon, dan tentunya balap keong.
Efek samping dari terobosan ini adalah beberapa anak langsung berlari masuk rumah, mencari apa-apa yang sekiranya bisa dikeongkan. Sendal jepit emak, cepuk plastik penakar beras, mainan lawas, hingga suku cadang apapun dari benda manapun tak pernah lolos dari sistem seleksi khas anak-anak, "Mak, yang ini masih dipakai?" Jika kepalan tangan yang terangkat berarti benda itu gagal jadi keong, dan sebaliknya. Adapun benda-benda yang sukses menjadi keong bisa dipastikan segera menemani hari-hari bermain anak-anak pilihan itu. Beberapa sudut kampung segera dihiasi kerumunan anak dengan kolam keruh seukuran mangkuk di bagian tengahnya, arena balap keong. Dari arena-arena semacam itulah keong-keong juara dikader. Keong juara pada umumnya merupakan keong bercangkang bulat, karena keong bercangkang runcing sering ditemukan menancap hidup-hidup di dasar kolam. Juga keong yang percaya diri, keong dengan kebiasaan bangun sendiri tanpa bantuan nafas buatan dari sang Empunya.

Catatan: Gambar keong saya pinjam dari flickr. Klik saja untuk menuju TKP.

18 September 2013

Fiksi Penyiar Radio


Selamat pagi sahabat. Sebuah komposisi dari Raisa siap menemani kita memulai aktivitas pagi ini, Use Somebody (Kings of Leon Cover). Diambil dari special acoustic performance, Music Everywhere NET TV. Just feel the beat! 

P: Halo, matur nuwun masé, lagunya wenak, gurih tenan!
H: Ya, mas. Dengan siapa ini?
P: Saya Paijo dari Bantul. Habis dengar lagu itu, saya langsung ambil koleksi Raisa saya di rak samping kulkas. Setelah tak bolak-balik bungkusnya kok ya ndak ada yang
judulnya Use Somebody ya? Sempat juga saya puter CD-nya kebalik, siapa tau, nyempil di baliknya, eh ternyata tetep ndak ada e'. Terus dari kompilasi mana ya masé dapat yang itu?
H: Itu kompilasi spesial, mas Paijo. Tidak ada albumnya, di-rip langsung dari video performance Music Everywhere NET TV.
P: Oh, pantes! Tapi bisa sejernih itu ya? Kalau ndak salah saya dengarnya bisa nyampe 320 kbps ya mas? Oke lah, besok saya rekues lagi nggih! Lagi-lagi yang gurih kemripik. Pareng, saya mau berangkat dulu ke Giwangan. Hehe... Biasa lah mas, tugas harian jaga peron. Wassalamualaikum.
H: Mugi berkah mas Paijo. Waalaikum salam.