17 Februari 2012

Cerita Kopi


Backpacker yang menyenangkan bagi saya pribadi berarti jalan-jalan yang dilakukan pada musim liburan di bulan Juni dan Juli, saat hari cerah dan awan tinggi lebih mendominasi langit. Dengan begitu, kesempatan untuk memperoleh bukti otentik berupa foto yang layak pajang dan pantas dijual jauh lebih besar. Saya rasa, belum ada aktivitas melelahkan di luar ruangan yang semenyenangkan backpacker.
Oh, tentu saja! Semua aktivitas itu ada efek sampingnya. Soal memotret tempat dan aktivitas manusia di ruang terbuka, boleh jadi hal-hal kecil dan sedikit remeh ikut terdokumentasikan bersama ratusan foto aneka warna. Contoh konkretnya banyak, bisa jadi hobi lain yang kita lakukan saat jalan-jalan. Kopi misalnya.
Selanjutnya, perkenankan saya berceloteh seputar gambar kopi dari berbagai penjuru mata angin beserta rasa, lokasi dan sedikit cara mendapatkannya. Inilah yang saya maksud.


[1] Kopi Bintang Tiga. Tidak cukup enak dibanding kopi warkop khas Gresik seharga seribu tiga ratusan. Disruput pada suatu pagi di sebuah hotel berbintang tiga, Denpasar, Bali (30 Juni 2010).
[2] Kopi Bromo. Di ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut, kopi panas akan terasa dingin dan tidak dianjurkan untuk disruput karena berbahaya bagi bibir esok harinya. Itulah mengapa kopi kaleng adalah pilihan yang dirasa paling tepat. Puncak Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (8 Agustus 2010).
[3] Kopi Gresik. Dari teksturnya jelas berbeda, kopi biasa plus biji jagung yang ditumbuk kurang sempurna. Selanjutnya, menikmati kopi pagi dengan sedikit kunyahan adalah wajar. Gresik, Jawa Timur (20 Maret 2008).
[4] Kopi Joss. Joss sendiri berasal dari bunyi bara api yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air, kopi dan gula. Raya Gajah Mada, Sidoarjo Kota (1 April 2008).
[5] Kopi Kost. Alasan utama pemilihan kopi kaleng adalah sisi kepraktisannya. Lebih cepat saji, tanpa harus membayar biaya listrik tambahan untuk merebus air. Ketintang pada suatu masa, Surabaya (20 April 2010).
[6] Kopi Penginapan. Lumayan untuk sebuah paket sarapan di sebuah penginapan, bersama para dewan guru dan siswa. Jatim Park, Malang (21 Juni 2009).
[7] Kopi Sosrowijayan. Menyusul nasi kucing yang terlebih dahulu masuk perut di sebuah pagi cerah dari kawasan Malioboro. Angkringan depan Marina Palace Hotel, Sosrowijayan, Jogja (2 Juli 2009).
[8] Kopi Sukawati. Kopi saset panas dengan tambahan sekian PPM polipropilen yang terlarut secara otomatis dari bagian dalam gelas plastiknya. Pasar Seni Sukawati, Gianyar, Bali (30 Juni 2010).
[9] Kopi Wendit. Kopi hitam dari warkop Pak Tarip ini mengandung sejumlah partikel kasar yang kemungkinan bukan kopi. Taman Wisata Air Wendit, Pakis, Malang (22 Juni 2009).

12 Januari 2012

Emak


Sejak dulu, kami para cucu memanggilnya demikian, meski sebutan itu lebih cocok diucapkan oleh ibu, bapak, paman dan bibi kami. Ya, Emak adalah nenek kami, istri dari almarhum Mbah Kung tercinta. Berumur 72 tahun, atau enam tahun lebih tua dari usia republik ini.
Bagiku, Emak adalah pembuat sekaligus pengaduk kopi yang handal. Jaman dahulu, pertengahan delapan puluhan hingga sembilan puluhan, sering kutemui Emak menghaluskan biji kopi dengan sebuah lumpang, perabot dapur serupa lesung berlubang satu yang hanya cukup dimasuki satu atau paling banyak dua alu saja. Berikutnya, kopi yang masih kasar itu disaring di atas kertas koran dengan pengayak tepung dari logam. Tapi itu dulu, hingga akhirnya semua proses tersebut diambil alih oleh tukang giling tepung di kampung sebelah.
Sejak 2009, setiap aku pulang kampung selalu tersedia kopi hitam di atas meja dapur. Ya, Emak tahu seleraku. Bahkan saat ibu melarangku untuk terlalu banyak mengkonsumsi kopi, Emak tetap saja membelaku dengan menyembunyikan gelas kopi buatannya di sekitar tumpukan karung gabah pojok dapur sebelah belakang. Satu hari satu gelas, aman lah!
Beberapa minggu lalu Emak menelponku dari desa. Lewat ponsel adik pertamaku, Emak menanyakan keadaanku di kota. Katanya, di dalam mimpi aku terlihat kurus sekali dengan sejumlah tulang rusuk yang terlihat jelas. Aku pun tertawa. Tentang kapan terakhir kali Emak melepas rindu via telepon, aku benar-benar lupa. Beberapa minggu kemudian aku memutuskan untuk pulang dan membuktikan bahwa aku baik-baik saja.
Dua Januari lalu, saat aku pulang ke rumah mertua di Jogja, bibi menghubungiku via telepon. Katanya, Emak telah dipanggil oleh yang Maha Kuasa, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Emak meninggal saat semua cucu dan anaknya kembali ke rumah masing-masing, tepat setelah kesembuhannya dari gangguan asam lambung beberapa hari sebelumnya. Emak telah menemukan cintanya di sana, Mbah Kung tercinta. Doa kami senantiasa menyertaimu.