18 Januari 2011

Sumur Berkatrol



This photo was taken on December 27, 2010 in Jatigedong, East Java, ID, using a Canon EOS 1000D (flickr)

Mencuci baju waktu masih SD dulu, mencuci karpet kamar, atau memandikan motor sambil mendengarkan 30 Seconds to Mars dari smartphone, semua pernah dilakukan di sini. Sumur Langgar, telah berdiri sejak tahun delapan puluhan. Dijepret dengan kamera pinjaman, diolah dengan Adobe Photoshop Lightroom 2.

3 Januari 2011

Tidak Ada yang Istimewa


Tidak ada yang istimewa dari event pergantian tahun kali ini. Hanya liburan tutup semester sepanjang empat hari, ditambah pelatihan satu hari, ditambah bolos satu hari, terakhir ditambah libur lagi tiga hari di kampung halaman. Itu saja yang membedakannya dengan hari-hari efektif selama ini.
Tiga puluh satu Desember sore hari, ada niatan untuk menggelar acara hiburan rakyat jaman baheula di samping rumah, layar tancap. Sasaran utama event ini adalah anak-anak kampung yang seluruhnya masih bersekolah di madrasah maupun SD kampung sebelah. Sukses? Tidak! Ternyata bagi anak-anak itu, film kartun tiga dimensi selucu apapun akan terasa cukup berat jika masih disajikan dalam bahasa Inggris.
Aktivitas lanjutan? Masih di depan laptop, memikirkan solusi finishing proyek limpahan tahun lalu. Ditemani Utopia dengan Hujan-nya yang memang pas dengan suasana di luar. Juga kopi hitam buatan Emak di awal tahun ini.
Intinya, selamat Tahun Baru. Ayo kita nyanyikan bersama-sama, "BARUda di dadaku, BARUda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang"

22 Oktober 2010

Das-dasan


Game tradisional ini sempat populer di kalangan anak-anak desa dari era jaman baheula sampai akhir 90-an. Cara bermainnya mirip dengan Othello, hanya saja ada bonus bagi pemain (A) yang lawannya (B) terlewat 'memakan' kerikil yang seharusnya memang siap 'disantap' kapan saja. Saat kesalahan ini terjadi, maka pihak pemain A akan meneriakkan, "DAS!*" kepada pemain B. Setelah itu pemain A diharuskan 'memakan' kerikil lawannya sebanyak yang dia bisa, tentu saja dengan melangkahinya.
Peralatan dan bahan yang perlu disiapkan sebelum memainkan game ini adalah serpihan genting (kereweng) atau batu bata untuk menggambar board di bidang datar seperti teras rumah atau gapura kampung (bok), enam belas butir kerikil untuk pemain A, enam belas kerikil yang berbeda warna untuk pemain B, dan dua orang pemain. Tanpa listrik, stik, baterai, ataupun kepingan CD sehingga 100% ramah lingkungan.
Oh ya, ilustrasi dibuat dengan Microsoft Paint on Windows 7 Ultimate build 7600. Biji das-dasan di atas sengaja tidak diposisikan stand by agar motif board di depannya terlihat jelas.


*) artinya kurang lebih, "GOB**K, kenapa gak lo makan itu kerikil gua? Oke, sebagai denda untuk kesalahan lo, sekarang ganti gua yang akan memakan kerikil lo sebanyak-banyaknya. Nyam... nyam...!!"