22 Oktober 2010

Das-dasan


Game tradisional ini sempat populer di kalangan anak-anak desa dari era jaman baheula sampai akhir 90-an. Cara bermainnya mirip dengan Othello, hanya saja ada bonus bagi pemain (A) yang lawannya (B) terlewat 'memakan' kerikil yang seharusnya memang siap 'disantap' kapan saja. Saat kesalahan ini terjadi, maka pihak pemain A akan meneriakkan, "DAS!*" kepada pemain B. Setelah itu pemain A diharuskan 'memakan' kerikil lawannya sebanyak yang dia bisa, tentu saja dengan melangkahinya.
Peralatan dan bahan yang perlu disiapkan sebelum memainkan game ini adalah serpihan genting (kereweng) atau batu bata untuk menggambar board di bidang datar seperti teras rumah atau gapura kampung (bok), enam belas butir kerikil untuk pemain A, enam belas kerikil yang berbeda warna untuk pemain B, dan dua orang pemain. Tanpa listrik, stik, baterai, ataupun kepingan CD sehingga 100% ramah lingkungan.
Oh ya, ilustrasi dibuat dengan Microsoft Paint on Windows 7 Ultimate build 7600. Biji das-dasan di atas sengaja tidak diposisikan stand by agar motif board di depannya terlihat jelas.


*) artinya kurang lebih, "GOB**K, kenapa gak lo makan itu kerikil gua? Oke, sebagai denda untuk kesalahan lo, sekarang ganti gua yang akan memakan kerikil lo sebanyak-banyaknya. Nyam... nyam...!!"

27 Agustus 2010

Pindah Hosting


Tak terasa sudah dua tahun lebih satu bulan sepuluh hari aku tinggal di tempat yang cukup nyaman tapi agak pengap di tembok-temboknya itu. Di sanalah tempatku berteduh dari panas dan hujan, tempat menyetrika baju, tempat berkantor di kala bolos kerja, tempat menikmati setumpuk film sewaan dan bajakan, juga tempat istirokhat di saat capek menyerang badan. Di habitat itu kuperoleh keterampilan bersosialisasi dengan tukang soto, penjual tahu tek, mbaknya londre, kasir minimarket, mbaknya penjaga bengkel motor, pedagang tahu campur, dan tak lupa bapak kost beserta anak serta pembantunya.
Berstatus sewa bulanan dengan sistem pembayaran prepaid, tempat itu sungguh terdukung oleh berbagai fasilitas publik seperti warung kopi, masjid, warteg, toko serba ada, bengkel, toko asesoris komputer, pusat pemandian motor, ATM, hingga akses internet berbayar yang siap sedia 24 jam penuh. Begitu lengkap dan memadai untuk sebuah kost mahasiswa yang ditempati seorang karyawan swasta bergaji #$*&^%*! per bulan.


Jika saja tidak ada rembukan keluarga menyoal sebuah gerakan hijrah dari sepetak ruang 300 ribu per bulan menuju rumah saudara yang serba nyaman, mungkin saja sprei dan sarung bantalku hari ini sudah bersih dan berbau wangi khas parfum cair rumah londre. Adapun barang-barang pribadi yang tidak ikut terbawa pindah adalah sepasang bak cucian, setumpuk piring makan sebagai bentuk cinderamata dari kondangan di sana-sini, jam dinding yang sempat baru itu, setumpuk kaleng bekas minuman ringan, dan gembok berkode yang pernah diulas tempo hari. Sebentar, sepertinya ada indikasi Joko Sembung mangan sego sak pincuk. Gak papa, dilanjut saja!
Meski bergeser sepuluh menit menjauh dari posisi semula, atau total jadi tiga puluh menit dari kantor tercinta, opsi di atas akhirnya benar-benar terpilih sebagai pengejawantahan kehendak emak, embah, paklek dan bulek. Adapun tujuan di balik itu semua adalah demi alasan kenyamananku sendiri, tidak ada kesan sama sekali untuk menjaga jarak dengan kantor tersayang.
Oh ya, kalau ada yang bertanya soal gambar ilustrasi di atas, inilah jawabannya. Keran ulir kost, benda yang sangat berjasa dalam sejarah peradabanku. Digunakan rutin setiap hari, terutama Minggu agak siang untuk mengatur aliran air dari sumur menuju bak cucian maupun tandon. Berikutnya adalah kaleng bekas yang sengaja dibiarkan menumpuk di atas almari. Kaleng tipe pertama dulunya berisi minuman ion, sedangkan kaleng tipe kedua pernah berisi kopi susu ataupun moka. Setiap kaleng adalah teman setia saat sang Juragan menonton film ataupun bekerja keras mengejar deadline. Akhir kalimat, selamat menunaikan ibadah di bulan Ramadhan, selamat Agustusan dan tentunya, mohon maaf lahir dan batin.

TTD,

Empunya Blog

12 Juli 2010

Masuk Sekolah Lagi

Inilah berbagai ekspresi wajah siswa baru SD di hari pertama mereka masuk sekolah. Diambil melalui sudut pandang lensa 58 mm Canon EOS 1000D. Oh ya, karena tergolong mainan baru, harap maklum jika hasil sodrekan masih memanfaatkan hitam-putih sebagai warna dominan. Sisanya, nikmati saja!

Menggeliat. Masih sempat menggeliat dalam prosesi penyematan tanda peserta MOS oleh Ibu Kepala Sekolah.


Menguap. Aktivitas menguap itu wajar, terlebih dalam sebuah apel pagi di hari pertama masuk sekolah.


Oahm. Bagi beberapa anak, menguap itu tidak harus dengan membuka mulut lebar-lebar.