18 Mei 2010

Juru Parkir


Terkadang sulit sekali untuk tidak bangga karena berhasil lolos dari juru parkir (bisa juga disebut jukir) depan warkop pinggir jalan itu. Memang, nominal lima ratus atau seribu rupiah tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan nilai kepuasan dari efek pelarian dengan sengaja itu. Begitu dramatis, tanpa perlawanan sedikitpun dari sang Jukir.
Bukan tanpa sebab para pelanggan warung kopi di sepanjang jalan itu membenci atau setidaknya tersenyum sinis atas kebijakan setengah baru itu. Jika tiga empat tahun lalu, di tempat yang sama, setiap orang berhak memanfaatkan ruang publik berupa tepian jalan untuk sekadar memarkir motor tanpa membayar biaya apapun, kini mereka harus mengeluarkan receh dalam bentuk restribusi yang selanjutnya entah mengalir ke mana. Ditambah lagi job description jukir itu sendiri yang cenderung lebih sebagai polisi cepek pengatur arus lalu lintas di depan warkop daripada sebagai penjaga keamanan motor. Bukankah polisi cepek asli tidak pernah pasang tarif?
Oh iya, numpang lewat. Gambar ilustrasi dijepret dari lahan parkir kantor sang Juragan. Tidak berhubungan langsung dengan jukir ataupun warkop tertentu, hanya gambar ilustrasi biasa yang murni bersifat ala kadarnya. Model adalah deretan motor asli yang difilter dengan kombinasi metode Sepia Photo Filter dan Diffuse Glow.

12 komentar:

  1. Ya Allah, Fiz....3 tahun lalu aku pertama kali kesasar ke blog u, aku hanya kenal "Fiz Online" blogger yg aktif sejak 2007, itu saja tidak lebih. Hingga ketika kamu komen di Blog aku, aku pun mengenal kamu sebatas "Fiz Online". Karena penasaran Hari Ini masuk ke profil blogger u dan aku cari emailmu. Kemudian aku Browsing di Facebook.....dan aku temukan namamu adalah Fis Ihsani, dan Siblingmu adalah Fis Habib.
    Aku kaget.....lho...!
    Allahu Akbar....ternyata Kamu adalah Teman 1 kelas di MTs dulu, wkkkkkk.
    Ternyata aku punya teman Blogger sejati. Ok Gan...lanjudkan..!

    BalasHapus
  2. Terima kasih... terima kasih... (bagaimana ini? hamba jadi tersanjung!) :D

    Ternyata, memang dunia tak selebar In**l Pent**m Jid. Buktinya, ya seperti ini. Okeh, kita lanjutkan!!

    BalasHapus
  3. wah...ikut surprise baca komen di atas :D

    btw, foto motornya keren banged !!

    BalasHapus
  4. Usul gan...itu komen yang di atas bisa diperdalam dan dijadikan posting tersendiri tuh...mantab

    BalasHapus
  5. Itu artinya kamu harus semakin rajin updated blog, fis.... *ini nimbrung komen temenmu di atas kekeke...

    Memang malas bayar parkir itu krn kita ga tau kan kemana uang retribusi itu pergi. Tkg parkir paling males tuh kasih karcis, dan kita sendiri jg sering malas mintanya.
    Mudah2an ke depan ada sistem elektronik saja, jadi begitu masuk ke areal parkir umum, no plat otomatis kecatat. Dan kendaraan yang berhenti lebih dari 5 menit, langsun di-charge retribusi. Retribusi akan ditagihkan setiap bulan ke ybs. Beres. Jadi jelas deh, gak ada yang bisa lari :p

    BalasHapus
  6. setuju tuh..
    saya lebih 'rela' memberikan uang parkir ketika tukang parkirnya aktif daripada cuma nungguin motor mo keluar..

    BalasHapus
  7. paling nyebelin klo ketemu tukang parkir yg abis kita kasih duit, trs dia ngacir gt aja.

    ato pas kita parkir, dia gak kasih aba-aba. munculnya pas kita mau pulang.

    BalasHapus
  8. jukir setengah pemalak ?

    BalasHapus
  9. misi...markir komen yaaa
    hehehehe...

    BalasHapus
  10. @Lita: Makasih... makasih... Kesimpulannya, untung saya ngeblog! :D
    @bukan: Hehehe, bisa juga tuh. Tengkyu ijo-ijonya Gan!
    @zee: Iya-ya, kita orang sepertinya memang jarang apdet sejak sering nongkrong di jejaring sebelah. Soal parkir, sepakat!
    @Pejantan: Bener itu Prie. Kalo cuman begitu, terus untuk apa dia dibayar? (kok jadi curhat yak?)
    @ndutyke: Lha, itu yang sering kita persoalkan. Untuk mengakali, tunggu saja hingga si Jukir narik restribusi konsumen yang ada di seberang jalan. Kalu saatnya pas, langsung saja tancap gas. Efektif... :)
    @sayurs: Pekerjaan utama: Juru Parkir, pekerjaan sampingan: pemalak *hayah! :D
    @Etha: Parkir saja mumpung gratis. Tapi jangan sampe lupa, besok bayarnya dirapel...!!

    BalasHapus
  11. ada enaknya juga kalo setengah resmi gitu. kalo nggak ngasih, dia nggak berhak marah dong hehee... tapi kalo kerjanya bener, tentu kita seneng ngasih tips kan.. :)

    BalasHapus
  12. hehe... klo yg ini namanya "polisi capek." capek jadi jukir terus... :)

    BalasHapus

Terima kasih atas komentarnya.