15 Juli 2008

Migrasi ke Barat


Setelah sempat tertunda selama enam bulan, akhirnya tepat 13 Juli kemarin jobdes migrasi alamat ke arah barat sukses terlaksana 100%. Meski 12 kilometer (20 menit) lebih jauh dari tempat kerja, setidaknya ada alasan khusus yang layak untuk diperhitungkan, mendekati pusat keramaian.
Jika ditinjau dari fasilitas, tempat tinggal terdahulu menawarkan sejumlah sarana-prasarana yang cukup lengkap dan memadai. Mulai dari penjagaan security 24 jam nonstop, parkir luas, air bersih, personal computer, televisi, lokasi dekat SPBU, warung kopi hingga kemudahan akses ke tempat kerja, semua tersedia. Tentu saja minus keramaian.
Lain cerita dengan alamat sekarang yang tidak jauh berbeda dengan keadaan rumah kost saat masih kuliah (...dan masih muda) dulu. Mulai dari lingkungan, fasilitas, hingga kondisi sosial masyarakat sekitar, semua serba mirip. Fasilitas berupa kamar luas (max 2 orang), air, MCK, tempat parkir roda 2, laptop bersama, listrik gratis untuk lampu dan setrika, lokasi dekat masjid, warung kopi, warteg, toko serba ada, pusat aksesoris komputer, pedagang kaki lima, tempat cuci motor, akses internet via warnet 24 jam hingga hotspot WiFi gratisan, semua tersedia. Tentu saja minus SPBU dan akses yang lebih jauh dari tempat kerja.
Meski dengan biaya transport yang lebih ekstra, belum telat kiranya untuk melakukan suatu perubahan ke arah yang lebih baik (...arah barat ^&@%#$@^%^&*#!). Selamat datang lagi keramaian, selamat datang Ketintang...!!!

8 Juli 2008

Hiatus Paruh Waktu

Hiatus atau cuti ngeblog adalah suatu hal yang wajar bagi seorang blogger paruh waktu. Sama wajarnya dengan cuti hamil bagi seorang karyawati swasta atau libur mingguan bagi para guru beserta siswa-siswinya. Berikut sejumlah alasan mengapa blog ini lebih memilih hiatus daripada harus memaksakan diri dengan postingan-postingan afkir.
[1] Sibuk. Akibat semakin banyaknya tugas kantor yang harus diselesaikan akhir semester ini. Efeknya, waktu ngeblog jadi terbengkalai.
[2] Pegal-pegal. Kegiatan kantor yang ekstra padat menuntut setiap orang mampu melakukan berbagai macam peran. Terkadang harus jadi fotografer, di lain waktu editor merangkap konseptor desain grafis, bahkan menjadi penggebuk drum. Hasilnya, sejumlah karya seni berbonus pegal-pegal.
[3] Konstipasi. Ketika perbendaharaan ide posting melimpah ada kalanya sulit sekali untuk mengeluarkannya. Entah kenapa.
Meski masih bersifat relatif, setidaknya itulah sebab-sebab mengapa blog ini baru bisa aktif kembali. Lalu, apa alasan Anda jika suatu ketika harus memutuskan untuk hiatus?

24 Juni 2008

Perempuan Tua Penjaga Warkop


Dialah yang paham betul pola dietku setiap pagi, seporsi nasi bungkus kertas minyak plus kopi biasa ukuran jumbo. Dia juga tahu kebiasaanku memanfaatkan bagasi jok bebek sebagai pengganti tas plastik untuk mengangkut asupan penuh energi itu. Setidaknya jika hanya sebungkus nasi yang kubeli. Pelayanannya terbilang standar bagi seorang perempuan tua penjaga warkop. Hanya saja, faktor usia membuat setiap gerakannya tampak begitu santai, bahkan saat mengaduk kopi untuk seorang pegawai swasta yang terburu-buru mengejar waktu.
Aset utama ibu tua itu berupa warung kopi di ujung depan jalan masuk kantorku. Sebuah warung kopi yang bukan sekedar tempat ngopi biasa. Faktanya, di tempat itulah sejumlah roda perekonomian masyarakat pinggiran saling mendukung. Lihat saja penjual soto yang bersimbiosis menawarkan variasi menu sarapan pagi ataupun produsen sate usus dan gorengan yang menerapkan metode share profit.
Entah kenapa, dua pagi terakhir warung kopi ibu tua itu selalu tutup. Hanya gerobak soto yang terlihat setia menanti calon konsumennya. Benar-benar sepi yang tidak biasa. Hingga sebuah berita dari penjual nasi bungkus lain di sudut SPBU menjawab semuanya, sang empunya warung telah tiada. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Di antara rasa sedih dan kaget, kuingat waktu terakhir kali bertemu dengannya. Semua tampak baik-baik saja.
"Nasi dua Bu."
"Nambah tas plasik lagi Dik? Tas plastik sekarang tipis-tipis, nanti sobek!"
"Ndak Bu, satu saja!"